Thursday, September 23, 2010

Si Ku-Ti-Pu

“Halo kau dimana?”. Kata lelaki di bangku sebelah. Di sampingnya duduk seorang anak kecil, kira-kira umurnya 9 tahun. Mereka datang berdua.

Saya sedang menunggu pesanan mie goreng, istri mie kuah. Kami ada di warung Barokah, jalan Malino. Waktu pukul 18.30 waktu Sungguminasa.

“Eh ingatko nah, di Bo*** kita bertemu,” kata lelaki berbaju putih dengan jeans biru itu. Saya tenang saja. Ruangan seluas 4 x 5 meter persegi itu terasa panas. Kipas angin mati. Bunyi gorengan dan kompor minyak tanah seperti menderu.

“Iyya, di sana saja. Dia mesti kurus, tinggi, putih,” Kata lelaki itu. Si anak memerhatikan laku si lelaki. Kedua telapak tangannya memangku dagunya.

“Ada temanku yang sedang butuh. Janganko yang cerewet dan genit,” Lanjutnya.

“Pokoknya putih, kurus, tinggi nah?. Dia tidak suka yang cerewet. Jangan lalo…” Sungutnya.

“Ok paeng, ingatko nah, malam minggu kami ke sana. Siapkan mami,” Suaranya pelan.

“Iyya, iyya… teman ini mau sekali, jangko salah nah?. Sepertinya dia sudah tahu kemampuan si ku-ti-pu ini,” Tutupnya.

Pesanan kami sama, dia pesan mie goreng juga. Saya juga tahu pesannya ihwal si ku-ti-pu.

Entahlah kalau anak-anak itu…

Monday, September 6, 2010

Panggil Dia Vita, Enjel...

Karena malam ini hingga malam ke-30 Ramadhan telah diputuskan oleh panitia mesjid Nurul Khalifah tidak akan ada ceramah maka saya coba mengais cerita yang saya kira layak direnungkan. Atau, jika tidak mau merenung, semoga ini dapat membuat tawa atau minimal bibir Anda sedikit tersenyum simpul.

Begini ceritanya...

Ada yang berbeda dari beberapa anak tetangga kami di Tamarunang. Mereka begitu rajin shalat shubuh. Intan (kelas 6), anak sulung saya, juga demikian. Belum usai shalat tarwih, dia sudah bilang, ”pak, nanti kita pergi shalat subuh ya,?”. “mmmhhh,” gumamku secukupnya.

Usai shalat shubuh, teman Intan, Khusnul (kelas 5), Nur (kelas 4), dan Yuyun (kelas 4) memang terlihat bahagia, mereka tertawa, saling meledek. O ya, mereka juga bawa tas kecil tempat menyimpan mukenah dan sajadah. Jika perlengkapan shalat sudah di tas, penampilan mereka layaknya hendak pesiar ke kota saja. Beberapa anak lelaki juga ikut atau berpapasan dengan mereka.

“Jalan-jalan subuh ,” Katanya. Padahal jarak dari rumah tidak lebih seratus meter. Saya selalu mengekor di belakang mereka. Sebenarnya sangat khawatir karena biasanya hingga subuh hari, beberapa anak muda masih kongkow dan kerap ditemani minuman keras.

Saya mesti mengawasi mereka. Walau mereka kerap berbisik-bisik dan meninggalkan saya, jauh di belakang.

***

Lalu ada yang membuat saya tak bisa menahan tawa saat beredar cerita tentang ulah keempat anak kemarin sore itu. Intan rupanya telah didaulat teman-temannya dengan nama Vanessa, Khusnul jadi Ajeng, Nur menjelma jadi Angel dan Yuyun ganti kulit jadi Vita.

Intan, anak saya itu rupanya jadi simpul dari pendistribusian nama yang diilhami dari sinetron salah satu televisi yang doyan sinetron, berjudul Arti Sahabat. Pemberian nama yang membuat orang tua sahabatnya kelimpungan.

Cerita bermula saat Intan dan Nur datang ke rumah Yuyun. Hanya 30 meter dari rumah saya. Yuyun tinggal bersama ayahnya bernama Daeng Ngewa dan ibunya, Sri. Daeng Ngewa adalah lelaki baik hati asal Takalar yang selalu mengantar jemput Intan ke sekolah.

Masih beberapa meter dari rumah Daeng Ngewa, “Vita…Vita…” Teriak kedua anak itu dengan manja. Panggilan, layaknya memanggil teman hendak pergi. Tak ada jawaban dari dalam rumah berbentuk kopel itu.

Di dalam, dahi Daeng Ngewa berkerut. “Inai injo nikio?,” Tanyanya heran. Siapa itu yang dipanggil?. Daeng Ngewa sadar di rumah itu hanya ada tiga nama. Siapa Vita?

“O Seri’, inai injo nikio,” Katanya pada istrinya. Sang istri hanya diam. Dia juga tidak paham siapa yang datang, dan cari siapa. Hingga kemudian , anaknya Yuyun keluar dari kamar senyum nyengir, “Saya itu yang dicari,”.

“Ringngapanna nusambei arengnu,?” Tanya Daeng Ngewa pada anaknya penasaran, “sejak kapan kau ganti namamu?,”. Sri menahan tawa,Yuyun cengengesan dan pamit hendak ke mesjid.

***

Hari masih pagi saat Intan dan Yuyun menyambangi rumah Nur. Mereka bertanya pada ibunya yang sedang mencuci . Namanya Daeng Sayang. “Tanta Sayang, manai Nur,?” .

Daeng Sayang yang masih mengenakan sarung hingga dada itu, sudah maklum ihwal penggantian nama mereka dan menimpali dengan nada ketus dibuat-buat. “I Enjel niaki lalang, rassi mea lipa’na ribangngia…”. Maksudnya, si Angel ada di dalam rumah, dia kencingi sarungnya semalam.

Ibu-ibu yang ada di depan rumah Daeng Sayang, memecahkan pagi dengan ketawa sepuas-puasanya. Intan dan temannya berlalu dengan senyum pahit. Mereka grogi dan segera ngeloyor...

Vita…Vita…Enjel…Enjel…


Tamarunang, 06/09/2010

Pagi, Bersabarlah...


Pagi tadi, saya hidupkan motor seraya memandang langit di barat. Ada mendung di sana. Tidak banyak yang saya pikirkan pagi itu, kecuali bergegas ke kantor. Beberapa menit di atas roda dua, atau tidak jauh dari perempatan jalan ke arah Malino dan Takalar di Sungguminasa, saya membaui gas emisi dan aroma macet yang luar biasa. Setidaknya ini sangat berbeda dari situasi biasanya, di kota Sungguminasa, selatan Makassar.

Hari ini 6 September 2010, sekitar pukul 09.00, terlihat dari jauh, jalur ke arah kota Makassar di sekitar pasar lama Sungguminasa memadat. Ada macet di sana. Di belakang Balla Lompoa juga demikian. Banyak warga yang mengambil pensiun dan gaji veteran di Kantor Pos Sungguminasa.


Tapi bukan hanya itu, rupanya kendaraan umum yang keluar dari pasar Sungguminasalah yang buat runyam. Mereka berbelok ke kanan ke arah timur dan dihadang oleh kendaraan yang mengarah kota Makassar.

Saya ada di antaranya dan berharap sederhana: pagi, bersabarlah…

Masih diam di atas roda dua, dari arah barat bunyi sirene mobil ambulance bertuliskan IASmo warna oranye dengan nomor plat DD 1282 IF memekakkan telinga, tepat di sampings saya. Saya tidak tahu apakah ada jenazah atau orang sakit di atasnya. Dua penumpang motor pengantar mobil itu coba menggeber mobil kanvas (barang) yang tidak pindah dari jalur mereka. Dia menggerakkan tangan tanda menepi. Tapi di depan kendaraan telah memadat, macet.

Dari arah timur, di belakang saya, dua truk besar juga tidak mau ketinggalan membunyikan klakson supergede. Twoetttt!!!.

Di jalan raya sempit sisa peninggalan kerajaan itu, peninggalan para penunggang kuda, orang-orang semakin tidak mau sabar. Di bulan Ramadhan yang semakin menua ini, orang-orang menyibukkan diri di pasar, mall, toko dan pusat keramaian lainnya.


Saya meneruskan laju motor, di antara dua pusat belanja bernama IndoMode dan Giant di jalan Alauddin, saya membayangkan sebentar sore dan dua hari kemudian, orang-orang yang semakin tidak mau sabar menunggu datangnya Lebaran…

Makassar, 06/09/2010

Sunday, September 5, 2010

Catatan Dari Bukber Alumni Kelautan


Tanggal 3 September 2010, melalui pesan singkat Ocha, istri Yusran, mantan Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, saya diundang berbuka puasa bersama (bukber) di kantor mereka. Lokasinya tidak jauh dari jembatan Jl. Abdullah Daeng Sirua arah ke Racing Center, Makassar. Sebelum ke sana saya mampir di Gedung Graha Pena mengajak Pamudi, rekan yang bekerja di salah satu proyek ACIAR Australia untuk riset pengembangan budidaya kelautan.

***

Pukul 17.20 saat saya sampai di kantor mereka. Di sana ada Ahmad “Anca” Mauliddin, dan beberapa staf YKL. Di depan kantor beberapa orang dari pihak Catering sedang mengatur meja, kursi dan letak wadah makanan. Lalu datang Zatriawan, Sri Wahyuni dengan dua anaknya disusul Yusran dan Ocha, juga datang kemudian Direktur YKL yang baru Irham Rapy alias Rappunk dan Nyonya.

Di depan kantor, satu persatu sahabat berdatangan. Kak Naz, Prof Iqbal Burhanuddin, Dr. Lukman dan beberapa alumni Kelautan mulai menyesaki kursi plastik merah yang disiapkan YKL. Ada AM Riady, Muhammad Syakir, Buhaerah Erax, Irwan Muliawan, Ongen Siwabessy, Edo dan istri, Subhan Chuba, Imran Lapong, Muis. Juga beberapa alumni baru. Selain Wawan Mangile dan Opay (pengurus Selam MSDC), ada belasan alumni yang saya tidak ingat persis namanya yang memilih duduk di dekat rindang pohon pisang.

Beberapa rekan Yusran yang bekerja untuk satu proyek pesisir dengan Oxfam GB juga datang. Ada dua berwajah expat. Yang satu fasih berbahasa Indonesia yang satunya masih terbata-bata.

Saya kira ada lebih tiga puluh orang yang hadir di acara itu.

***

O ya, ada tamu istimewa malam itu: mas Rahmat Eko Raharjo. Dia datang ditemani Hasanuddin “Oending” Sanusi, yang kini jadi dosen di salah satu perguruan tinggi. Mas Eko adalah salah seorang peserta studi lanjutan dari Angkatan Laut Surabaya di Program Studi Ilmu Kelautan Unhas pada tahun 90-91.

Sembilan belas tahun lalu, Mas Eko bersama seorang lainnya Rudin Alamsyah masih berpangkat letnan (pelaut) satu. Kabar buruk buat kita semua karena Rudin Alamsyah diberitakan telah meninggal karena sakit yang tak terduga beberapa tahun lalu.

“Saat itu mas Rudin lagi baring-baring santai di lantai, tiba-tiba mengaku gak enak badan dan tidak lama kemudian meninggal,” Kata Mas Eko. Mas Eko sendiri menurut pengakuan Hasanuddin, telah berpangkat tiga melati. Berarti mas Eko telah berpangkat Letnan Kolonel?

Pertemuan yang mengesankan dan sarat makna. Saya sempatkan mengobrol dengan Prof Iqbal tentang situasi kemahasiswaan dan kegiatan mahasiswa Kelautan. Juga menyampaikan tentang pentingnya membantu mahasiswa untuk paham metodologi penelitian dasar, desa pesisir, riset dan teknik interview.

“Itu yang sedang kita dorong, walau begitu ini sangat tergantung pada minat mahasiswa juga,” Kata Prof Iqbal. Ada dugaan bahwa minat mahasiswa Kelautan pada kegiatan organisasi kebaharian saat ini sedang drop. "Saat ini telah ada 700an alumni Ilmu Kelautan," Kata Prof Iqbal. "Iya, di group FB terdaftar 301 alumni," saya menambahkan.

Di bagian lain, Dr. Lukman (yang baru saja pulang menggondol gelar Doktor dari Jerman) bincang dengan Mas Eko tentang kebijakan dan penegakan hukum di laut yang akhir ini jadi topik nasional, beberapa kawan seperti AM Riady dan Hasanuddin ikut menimpali.

“Terkait konflik pamanfaatan sumberdaya kelautan kita oleh dua negara, nampaknya memang perilaku nelayan dan aparat pemerintah Malaysia kerap berlebihan,” Kata Dr Lukman yang pernah penelitian di Riau dan sekitarnya.

Buka puasa sekaligus pertemuan alumni antar angkatan di Kantor YKL itu sangat mengesankan dan berarti dan penuh cerita sukses. Beberapa obrolan juga terdengar antara Irawan Muliawan dan rekan seangkatannya seperti Edo, Muis dan Ongen. Ongen sendiri sedang istirahat sepulang dari proyeknya dengan UN di Papua New Guinea. Di telah dua tahun bekerja di negara timur Indonesia itu. “Saat ini saya sedang menimbang untuk bekerja di Kosovo,” Katanya.

Tamu lainnya seperti Buhaerah Erax yang kini sedang bekerja di salah satu program CSR korporat di Sulawesi Barat juga berbagi cerita dengan sahabatnya seperti Ancha, dan beberapa alumni angkatan di bawahnya.

Bagaimana pun pertemuan alumni sekaligus buka puasa bersama itu telah mengikat kembali temali silaturahmi alumni. Sayang sekali saya bersama Pamudi tidak bisa lama di sana. Saya pulang saat Prof Iqbal dan Dr Lukman sedang bincang dengan alumni lainnya.

Setelah YKL, ada yang tertarik mengundang alumni halal bihalal setelah lebaran nanti?

Sungguminasa, 05/09/2010

Friday, September 3, 2010

Tanya Sofia


Si Sulung, Intan Marina lahir pada tanggal 26 Desember. Saat dia meniup lilin ulang tahunnya di ulang tahun ke-5nya pada tahun 2004, tsunami melumpuhkan Banda Aceh dan sekitarnya. Yang kedua, Khalid Adam terlahir 25 Maret saat saya dalam perjalanan di atas laut ke Taman Nasional Taka Bonerate tahun 2002, Selayar. Saya mendengar kabar kelahirannya pada pukul 11.00 wita saat untuk kali pertamanyajuga telpon satelit mulai operasi di Pulau Rajuni, Taka Bonerate.

Pagi ini, tanggal 22 Mei 2010, si bungsu, Aisya Sofia bertanya, “berapami umurku Pak? Lahir dimana?”, saat saya memeluk dan memberinya kecupan selamat ulang tahun. Wajahnya masih kusut, rambutnya berantakan, ilernya masih menempel di pipi kanannya. Si bungsu senang, dia menagih hadiah. Anakku yang satu ini, punya keistimewaan, beberapa bulan terakhir setiap ia bangun, dia selalu melepas senyum. Selalu menyenangkan melihatnya saat bangun.

***

Calang, tanggal 22 Mei 2006. Seorang bapak baru saja menempuh perjalanan selama empat jam dari Meulaboh, Aceh Barat. Dia lalu mencari penginapan di ibu kota kabupaten Aceh Jaya yang sebelumnya luluh lantak dihantam gempa bumi dan tsunami. Tidak gampang mencari penginapan di sana karena hampir semua rumah, penginapan, wisma telah hancur serata tanah. Jika pun ada, semua nyaris diisi para pekerja sosial atau staf perusahaan kontraktor.

Butuh beberapa menit untuk mengelilingi daerah itu. Terlihat beberapa gudang, tenda-tenda besar warga putih dengan logo United Nations biru muda putih, rumah-rumah kayu, dan para pekerja NGO yang terlihat lalu lalang seperti berpacu dengan waktu merampungkan proyeknya, di tahun kedua setelah peristiwa dahsyat tersebut.

Cuaca sangat panas saat si bapak datang. Semilir angin serasa tak berarti. Daerah itu sangat gersang. Bapak itu merasa asing. Satu kedai kopi yang lebih tepat disebut ruangan dalam dengan rangka bangunan yang “belum selesai”. Letaknya di balik bukit kecil di sebelah barat Calang. Lokasinya di utara gudang Palang Merah Canada dan tidak jauh dari kantor Oxfam Calang.

Setelah berbasa-basi dengan beberapa pengunjung dan tuan rumah, tuan rumah memberi tahu bahwa di lantai rumah atas masih tersisa satu kamar yang dapat disewa. Ukurannya 3 x 3. Dua tempat tidur kecil dengan balutan seprei dari semacam tikar. Ada meja kecil. Kamar mandi di luar. Bapak itu masih mendengar deru heli di dekat pantai yang rutin di sore hari yang mengunjungi wilayah di selatan sekitar 150 kilometer dari Banda Aceh.

Tentu saja bapak itu senang bukan kepalang, lalu mengiyakan saja harga yang ditawarkan pemilik. Memang, rumah berlantai dua itu, nyaris tanpa dinding tapi buat nyaman karena di sana sang bapak dapat mendengar cerita saat daerah itu dilanda bencana. Ruang tengah di lantai dua jebol. Hanya kamar depan yang tersisa, dinding sebelah barat sudah runtuh. Yang membuat rumah ini masih bertahan karena letaknya di balik bukit. Konstruksinya terlihat kokoh. Rumahnya terlihat bagai kombinasi rumah batu dan lantai dua yang berkonstruksi rangka saja. Dari jendela kamar itu terlihat satu rumah di atas bukit rimbun di sebelah utara.

Bapak itu tidak sadar bahwa nun jauh di sana, di Makassar, seorang wanita berumur 28 tahun sedang menunggu masa-masa dahsyat. Menunggui kelahiran anak ketiganya. Malam itu, sang Bapak melewati waktu demi waktu di Calang, satu ibukota kabupaten yang tidak terlalu luas namun eksotik karena topografi pantai dan konfigurasi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sang Bapak melewati malam dengan mengobrol panjang lebar bersama sopir mobil sewa dan beberapa warga Calang di kedai kopi.

Malam berlalu. Tidur sang bapak tak terlalu nyenyak. Angin malam menembus dinding kamar yang bolong, berhembus dari Samudera Hindia terasa buat gigil. Bermalam pertama di Calang, lokasi tsunami yang didera sangat parah itu berhasil dilaluinya. Mata dan hatinya tertuju pada suasana Calang yang menunjukkan gelisah, sisa penderitaan dan daya tahan.

Keesokan paginya, sekitar jam 10.00 wita di Rumah Bersalin Budi Mulia, di Jalan Pelita, Makassar, seorang ibu ditemani mertua sang bapak dan anak keduanya bernama Khalid Adam segera bergegas ke kamar bersalin. Menurut berita, kontraksi sang ibu tidak sampai 30 menit hingga dia melahirkan.

“Saking cepatnya kelahiran itu, saya sempat khawatir si bayi akan lahir di taksi” Kata sang Istri. Sang bapak mendengar kabar ini saat dia sedang leyeh di atas tempat tidur. Satu sms dari iparnya memberinya nafas lega dan mengharukan. Anak ketiganya, Aisya Sofia lahir di Makassar saat dia sedang merenung di Calang, tanah yang mencoba tegar melanjutkan hidup setelah bencana itu.

Selamat ulang tahun ke-4, anakku Aisya Sofia! Nama itu diinspirasi oleh Aisyah Daeng Baji, nenek kami yang telah berpulang. Berharap kesabaran dan daya tahan sang nenek dapat dicangkokkan ke dirinya. Nama Sofia merujuk ke Sofia E. Bettencourt, wanita cantik berdarah Portugal yang bekerja pada satu donor pembangunan internasional yang merintis satu program konservasi terumbu karang terbesar di Indonesia.

Semoga dikau tumbuh cantik, menyenangkan bagi sesama dan punya daya tahan yang dapat diandalkan, anakku!

Makassar 22052010

Cerita Ip Man 2


“Tahun 40an, Hong Kong dalam belitan kuasa dan pengaruh budaya imperialis Inggris setelah lepas dari Jepang. Di depan jejeran rumah kopel yang catnya mulai memudar, tiga orang wanita sedang duduk mematung dengan kepala dibungkus steamer, bak kepala astronout. Mereka hendak mengubah rambutnya menjadi keriting. Dalam beberapa menit, alur cerita mendekati tamat. Penonton yang semula tegang mulai melepas senyum. Di rumah kopel itulah Ip Man dijemput sang istri yang baru saja selesai bersalin.

Penonton memuji penampilan tokoh kunci Ip Man yang heroik saat melumpuhkan Twister si bengis dari Inggris. Adegan di atas adalah suasana dan alur akhir dari film Ip Man 2. Film yang mengambil setting Hongkong tahun 40an. Ada polisi Inggris, riuh perguruan silat dan Ip Man yang sedang merenung tentang apa yang mesti dilakukannya setelah hengkang ke Hong Kong dari daratan Tiongkok.

Tokoh utama Ip Man adalah suhu perguruan Wing Chun dari daratan China. Dia bersama istrinya sepakat membuka perguruan Kung Fu di tengah dominasi group silat dan campur tangan administrasi Inggris.

***

Aktor kondang Donnie Yen sebagai Ip Man, seorang master kung fu yang mencoba bertahan di Hong Kong dengan mendirikan perguruan Wing Chun. Adegan pembuka di film ini menggambarkan alur Ip Man dan istrinya. Mereka mengamalami kesulitan ekonomi, apalagi dengan kehamilan istrinya. Ip Man bertemu Wong Leung yang diperankan Huang Xiaoming. Wong takluk pada uji nyali dengan Ip Man dan menjadi muridnya.

Selanjutnya, mengalirlah adegan lucu, kocak, prihatin, perkelahian antar anak muda, geng dan beberapa anak buah perguruan silat di sana. Gairah anak muda yang sangat pede dengan ilmu yang diperolehnya membuat Wong kerap terlalu pede dengan orang luar termasuk murid perguruan silat lainnya.

Adalah Hung Gar yang diperankan oleh Sammo Hung yang terganggu dengan hadirnya perguruan silat Wing Chun. Bahkan mereka adu jurus laga di depan beberapa pengurus perguruan silat di Hong Kong untuk memperebutkan izin operasi. Sebagaimana pepatah China, persahabatan yang bermula dari konflik biasanya akan bertahan lama dan kuat. Persis senada dengan sikap Hung kepada Ip Man. Dari menjadi musuh karena prestise sesama guru silat, menjadi perkawanan kuat, walau kemudian Hung terkapar di tangan Twister, petinju Inggris yang sangat liar.

Sebagaimana layaknya film yang sarat dengan konflik antar negara, China – Inggris dan Hongkong, nampaknya sutradara ingin menggugah nasionalisme penonton yang bertumpu pada kesetaraan dan kebanggaan lokal. Hung sebelum meninggal sesumbar untuk “mengusir iblis asing di Hongkong”. Maksudnya, dia mulai tidak cocok dengan gaya Inggris utamanya ulah beberapa petugas kepolisian yang memanfaatkan pertarungan tinju untuk melemahkan posisi warga pribumi.

“Usir iblis asing itu dari sini!” desaknya saat dia mengendus gelagat jahat dari orang-orang Inggris di Hong Kong yang serakah dan culas itu.

Saya kepincut karakter dan mimik Donnie Yen dalam film ini. Wajahnya yang innocent, tenang sangat pas memerankan Ip Man yang sedang berproses dengan lingkungan sosialnya. Dengan beragam konflik batin. Gambar-gambar rumah, pertarungan dan ekspresi para tokoh sangat lucu dan menarik.

Bagi saya Ip Man 2 sangat keren. Simpel dan menyenangkan. Menonton film ini rasanya kita tidak bisa melupakan karakter dan kharisma Samo Hung. Walau sempat menyimpan gelisah sedari awal, Samo Hung dengan tubuh tambunnya sangat memuaskan selera.

Dialog Suhu Hung dengan suhu Ip Man memberi impresi pada pentingnya penghargaan, sederhana, tidak sombong, memanusiakan manusia dan urgensi kesetaraan dalam memandang sesama.

Dalam Kung Fu, jika pun kita unggul itu bukan berarti bahwa kita lebih hebat dari yang lain, “itu hanya menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus selalu ditegakkan” begitulah tafsiran atas sikap Ip Man pada dominasi Inggris (yang direpsentasi oleh Twister yang berotot dan arogan) di Hong Kong yang meremehkan warga setempat.

Ada yang menarik di adegan pamuncak film ini. Ternyata, Bruce Lee kecil yang kesohor itu datang ke Suhu Ip Man minta diajari kung fu. Anda pasti ingat aktor itu dengan gerakan jempol di hidungnya. “Saya Bruce Lee, saya ingin belajar Kung Fu!” Katanya, khas anak-anak. Penonton juga tertawa melihat adegan itu.

Hadirnya sosok Bruce Lee kecil di akhir film, bahan racikan untuk Ip Man 3? Entahlah...

Kandea, 23052010

Bersih Pantai Baloiyya


Puluhan aktivis lingkungan dari organisasi selam Sileya Scuba Divers, (SDC), Saka Bahari, Taman Nasional Taka Bonerate, klub Atolls dan beberapa warga biasa pada tanggal 30 Mei 2010, melaksanakan kegiatan bersih pantai dan terumbu karang atau " Reef and Beach Clean Up" di pantai Baloiyya, selatan Kota Benteng, Selayar.

Saat sebagian besar warga mengikut lomba gerak jalan santai berhadiah puluhan juta di Kota Benteng, mereka memilih berkumpul di pantai dan membersihkannya dari sampah organik yang berserak lalu membakar dan menimbunnya. Sampah anorganik, seperti kaleng, botol dibawa ke kontainer Dinas Kebersihan Kabupaten Selayar yang telah menunggu di jalan.

Hajrah, 16 tahun, anggota Saka Bahari atau Satuan Karya Bahari Benteng mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 10 temannya. Beberapa siswa yang hadir datang dari SMK Kesehatan, SMA I Benteng, SMK I, SMA Muhammadiyah. Dedy, telah beberapa kali ikut kegiatan bertema lingkungan mengatakan alasan keikutsertaannya demi mendapatkan pahala. "Mengabdi untuk lingkungan seperti ini sangat berpahala dan bermanfaat bagi kita semua," katanya.

Dokter Benedicta W.S, Sp.M motivator di balik organisasi selam SDC, sekaligus penggagas acara ini mengatakan, kegiatan ini bertujuan demi memupuk rasa peduli warga pada lingkungan lautnya. Menurutnya, perlu langkah nyata untuk melestarikan lingkungan laut seperti terumbu karang dan asosiasinya, bukan semata di bibir saja.

Soto Banjar Daeng Bella


Sekilas wajahnya mirip Syahrul YL, Gubernur Sulawesi Selatan yang flamboyan itu. Ismail Daeng Bella, lelaki kelahiran Kampung Pappa, Takalar juga berkumis tebal dengan senyum yang nyaris sama. Daeng Bella, begitu warga Benteng, Selayar mengenalnya adalah pemilik warung soto Banjar di Benteng yang laris manis.

"Saya sepupu sekali dengan ibu Sittiara, kepala BKD Makassar" katanya di warungnya yang terletak di pojok pasar lama Kota Benteng. Daeng Bella kecil lahir di Pappa, dekat sekolah SMA 2, Takalar. Saat ini menikmati hidup dan pekerjaannya sebagai pemegang "franchise" soto Banjar. "Sudah banyak instansi pemerintah dan warga Benteng yang mengenal dan menjadi pelanggan saya," Akunya.

Daeng Bella sekeluarga tinggal di Kampung Batu Panynyu, selatan Kota Benteng bersama istrinya, Andi Bau Ati dan dua orang anaknya. Anak pertamanya sudah kelas 2 SMA dan yang kedua masih TK. Mereka selisih 13 tahun.

Daeng Bella dan Bau Ati bertemu dan memutuskan menikah di Makassar. Saat itu Bella sebagai sopir pribadi pemilik warung Soto Banjar di Jalan Tinggi Mae dekat kantor pos, namanya Haji Syahran asli Banjar.

"Saya hamil tujuh bulan saat memutuskan kembali ke Benteng pada tahun 1993. Itu kehamilan anak pertama saya. Kelak anak itu bernama Andi Nurheti," Kata Bau Ati.

Saat mereka menikah, Daeng Bella telah bekerja beberapa tahun bersama Haji Syahran. Bella lahir tahun 1965 sedangkan istrinya lahir di Batu Panynyu, satu kampung sejauh 10 kilometer ke timur dari poros jalan menuju Kota Benteng.

Mula Usaha

Sejak menikahi Bau Ati, Daeng Bella tidak berpikir untu buka usaha warung soto di Benteng hingga bertemu Almarhum Hj. Nurtin Akib Patta, istri mantan Bupati Selayar H.M Akib Patta.

Kesempatan itu datang saat ada acara di Kampung Batu Panynyua yang dihadiri oleh ibu Bupati. "Saat itu, saya coba membuat menu soto banjar kepada para tamu yang datang termasuk Ibu Bupati," Katanya. "Saya tidak terlalu ingat bahwa ternyata Pak Akib Patta dan Nyonya adalah langganan soto banjar di Tinggi Mae" lanjutnya.

"Eh, soto banjar ini persis sama nikmatnya dengan soto Tinggi Mae," kata Daeng Bella menirukan Ibu Nurtin. Daeng Bella jadi sadar bahwa hasil racikannya memberi kesan kuat bagi Ibu Bupati.

"Oleh ibu Bupati, saya lalu diberi bantuan modal sebesar Rp. 400ribu untuk bisa membuka usaha itu di Benteng," Aku Daeng Bella. Kejadiannya pada tahun 1998.
"Mungkin secara tidak langsung saya promosi tentang kemampuan saya kepada ibu Bupati dan beliau tertarik," Kata Bella dengan senyum. Saya diberi tempat di samping gedung PKK, pas samping Kantor Kejaksaan Selayar. "Saya menjalani usaha itu selama 5 tahun. Yang sering datang adalah pegawai daerah, kejaksaan, pengadilan dan banyak lagi. Harga perporsi masih Rp. 3ribu," Kata Daeng Bella.

Setelah itu, Daeng Bella pindah dan mengontrak satu rumah kayu berlantai dua kopel di dekat pasar lama. Di tempat inilah saya berkenalan dengan Daeng Bella tahun 2003. Saat itu saya mampir makan karena informasi dari teman sekantor yang menyebut Daeng Bella adalah penjual soto Banjar asal Takalar. Sekabupaten dengan saya.

Hari ini tanggal 31 Mei 2010 saya menjumpainya lagi. Ditemani sang istri Daeng Bella terlihat semakin ulet dan bahagia meneruskan usahanya.

"Setiap hari kami habiskan tiga ekor ayam perhari. Beli ayam dekat sini, kami juga membeli jeruk nipis, jahe, bawang merah, bawang Bombay, mentega di Benteng. Kalau daun sup atau seledri dikirim dari Bulukumba.

"Kami pindah tahun 2003 dengan menyewa Rp. 4 juta pertahun selama 3 tahun atau 12 juta. Tahun ini tidak terasa sudah 7 tahun mengontraknya dan masih tersisa satu tahun setengah," Katanya.

"Walau pasar sudah pindah ke Bonea namun usaha ini akan tetap lanjut, stabil, tidak ada perubahan jumlah pengunjung" lanjutnya.

Warung Daeng Bella buka jam 08.00 sampai pukul 15.00. "Saat sore, sesampai rumah saya pergi berkebun. Saya punya kebun seluas satu hektar dan menanaminya jambu mete," katanya.

"Saya sebenarnya tidak tamat SD," Kata Daeng Bella nyengir. Dia sempat masuk kelas I namun berhenti. Lelaki ini anak kelima dari tujuh bersaudara. Saudara tertuanya kerja di salah satu kantor dinas di Takalar. Sebagian lainnya sebagai sopir dan orang bengkel. Satu kakaknya bernama Daeng Bani adalah yang memperkenalkannya dengan Haji Syahran. Si kakak ke-3, kenal dengan Haji Syahran dan menawarkan Daeng Bella sebagai sopir.

"Saat itu umur saya sudah 20 tahun," Katanya.

"Begitumi memang kalau saat sekolah kita sudah diminta jadi gembala kerbau (koloaki tedong)," Katanya dengan senyum mengembang. Adalah Daeng Bani kakak Daeng Bella yang bekerja di Bengkel Colombia yang memberinya kesempatan.

"Saya tinggal sama Daeng Bani di Jalan Veteran, di daerah Lariangbangngi, dekat kompleks Telkom," ucap Daeng Bella.

"Dari sanalah saya mulai mengenal bahan-bahan racikan soto Banjar, saya berbelanja ke pasar Terong membeli bahan dan mulai mempelajari,"akunya. Calon istri Daeng Bella, Andi Bau Ati, tinggal di Tinggi Mae.

"Saya pembantu rumah di Makassar selama dua tahun. Sepupu yang bawa saya ke Makassar. Saya tamat SD di Batu Panynyu, Selayar. Di Makassar, saya tinggal di Jalan Kemauan III," Kata istri Daeng Bella mengenang keadaannya saat itu.

"Berarti lebih bagus sekolahta dibanding Daeng Bella,?" Kataku bercanda ke Bau Ati. Sukses Daeng Bella, tidak serta merta melupakan keluarganya di Pappa. "Tahun lalu saya ke Pappa, tepatnya bulan lima. Karena anak saya dari istri pertama menikah" Ungkap Daeng Bella. "Tapi, mantan istri saya sudah menikah juga," Katanya buru-buru menjelaskan tentang mantan istrinya. "Anak saya tinggal di Jalan Andi Tonro, Makassar dan tamat SMA," kenangnya.

Dengan pendapat rerata kotor Rp. 300ratus perhari, Daeng Bella menikmati hidupnya bersama istrinya Bau Ati. Dengan modal 4 meja panjang dan 22 kursi plastik, Daeng Bella sangat bangga dengan usahanya ini.

Menu khas soto Banjar yang diperoleh secara tidak sengaja di Makassar dan dilirik oleh Ibu Hj. Nurtin Akib Patta telah membuatnya selalu tersenyum. Pengalaman dan garis tangannya telah memberinya masa depan yang nyaris pasti. "Hampir semua kantor pemerintah telah mengenal dan kerap kali meminta layanannya untuk menyiapkan soto Banjar saat ada acara kantor atau pertemuan-pertemuan"

"Saya juga tidak bisa melupakan almarhum, Ibu Hajjah Nurtin Akib Patta yang memberi modal awal. Saya terharu saat hendak mengembalikan pinjaman itu, Almarhum bilang, tidak usah dikembalikan. Gunakan saja untu mengembangkan usahamu," Kenang Andi Bau Ati pada sosok wanita kelahiran Pare Pare yang telah berpulang dengan tenang itu.

Benteng, 31/05/2010

Bakau Andi Patahangi

Lingkungan Tangnga Tangnga pada satu senja tanggal 30 Mei 2010. Saat menunggu sunset di atas Pulau Pasi, di seberang kota Benteng Selayar saya merasakan hal yang berbeda. Saat dimana banyak hamparan bakau dibabat demi kepentingan usaha, di Kelurahan Bontobangun ini masih dijumpai ekosistem bakau yang padat dan menghijau.

Saya berdecak kagum pada hamparan bakau jenis Rhizopora di sekitar empang Andi Patahangi. Pensiunan pegawai negeri yang rela menghabiskan waktunya di pesisir pantai dengan merawat tambak alamiahnya.

Menurut Patahangi, tambaknya ini awalnya adalah hamparan pesisir pantai yang tergenang air saat pasang naik. "Saya mulai membangunnya pada tahun 1990, setelah mendapat izin dari Dinas Perikanan Selayar," Katanya. Dia bermohon melalui skema "Prona". "Ada 10 orang dulu yang bermohon. Yang bertahan saat ini hanya tiga orang. Mereka adalah Aco Patimbangi, Lahamuddin dan saya sendiri," Katanya.

Kendala yang dihadapi adalah semakin kuatnya hempasan ombak sehingga tambak-tambak itu rusak dan tak berproduksi. "Saat banyak tambak yang hancur, saya berpikir untuk mulai menanam bakau. Saya ambil bibit di Kampung Padang," .

"Saya memilih menanam bakau karena akarnya sangat kuat mencengkeram pematang," katanya lagi. Patahangi belajar dari orang tuanya yang mengelola tambak di Padang.

Andi Patahangi kini menikmati ratusan pohon bakau berumur belasan tahun. Tingginya sudah mencapai sepuluh meter persis di sisi selatan tambaknya seluas 3/4 hektar. "Coba lihat batang dan akar bakau yang sangat kuat itu, di sana banyak sekali kepiting kepiting bakau yang bermain di sana," katanya.

Andi Patahangi juga telah menanam beberapa pohon baru di sebelah barat, di samping pohon-pohon yang sudah kokoh. Beberapa bibit dia ambil dari induknya, masih di dekat tambaknya. "Kendalanya ada karena banyak kerbau yang datang dan memakan pucuk-pucuk baru," ungkapnya. Dia menanamnya sejak musim barat lalu, jadi sudah hampir setahun.

Saat saya tanyakan usaha tambaknya ini, Patahangi bercerita bahwa pernah sekali dia menebar udang jenis Vannamae, namun rugi. Bibit dia beli dari Takalar sebanyak 50.000, seharga Rp. 2 juta pada tahun lalu.

"Saya panen hanya 300 kilo lebih udang dan nilai jualnya hanya Rp. 3 Juta saja karena harga perkilo cuma Rp. 35ribu. Saya Rugi karena waktu dan biaya operasional banyak terbuang percuma," Katanya.

"Saat ini saya hanya menunggu ikan-ikan liar yang masuk ke tambak seperti kerapu, belanak, bandeng dan udang alamiah," Kata lelaki bermata sipit ini yang masih punya darah Tionghoa.

Andi Patahangi tidak menunjukkan penyesalan dengan tambak yang dikelolanya karena dia menikmati keindahan bakau dan sunset saban petang di belakang rumahnya. Di hari tuanya, dia menunggu kesempatan baik datang, untuk mulai membuat pematang baru agar tambaknya bisa lebih mudah dikelola."Inimi yang saya kelola saja, apa adanya," katanya.

Dia sangat senang saat saya bilang, bibit bibit kepiting bakau yang banyak dijumpai di sela akar bakau dapat dibesarkan dengan membuat kurungan dan memberinya pakan buatan. Bukan hanya itu, bakau-bakau ini dapat menjadi hiburan bagi warga yang haus dahaga pariwisata pantai, atau pemancingan alami di dalam area tambaknya.

"Di usia tuanya, satu-satunya yang mengganggu adalah saat gejala asam urat menyerang dan membuat saya sulit turun ke tambak. Jika demikian saya hanya duduk di pondok samping tambak dan menikmati ketenangan di situ," Katanya.

Dia terkekeh, matanya semakin sipit saat saya menyampaikan keinginan untuk emotretnya. "Aih, saya tidak pakai baju, janganki foto bagian bawah, muka saja ya," Pintanya. "Siap!," kataku.

Benteng, 01 Mei 2010

Keluarga Anwar Di Huluk

Hujan rintik di Kampung Huluk, Selayar. Kami menuju satu rumah yang hanya berjarak seratusan meter dari villa milik Tanri Abeng. Seekor anjing kurus yang sebelumnya duduk santai di tangga bergegas lari saat Ben, teman seperjalanan saya menaiki tangga rumah bertiang pendek itu. Di depan, air tak henti mengalir dari bak penampungan. Hujan masih mengguyur wilayah timur Kota Benteng.

Di depan rumah, lelaki Anwar baru saja mandi. Dengan handuk masih membalut, dia melewati saya yang duduk di teras panggung rumahnya. Dia mempersilakan kami masuk. Di dalam, Nurhayati, istrinya yang juga kelahiran Huluk pada tahun 1971 sedang menggendong anaknya Meisya Aulia Putri, umurnya satu tahun. Si balita rupanya sedang rewel, dia terus merengek karena demam.

Setelah sang bapak naik ke rumah, anak lelakinya Irfan juga bergegas menuju bak air. Dia hendak mandi juga. Pada hari Jumat itu, sebagai warga muslim mereka mesti bersih-bersih diri untuk mengikuti ibadah shalat Jumat dalam hitungan beberapa menit lagi.

Anwar yang kurus berkumis itu, mengaku bahwa semasa mudanya, dia merantau ke Makassar. Dia sekolah di SMP Karya Makassar. Pernah dua kali mendaftar tentara, namun tidak lulus. Kemudian merantau ke Toli Toli, Sulawesi Tengah. Hanya beberapa bulan di sana namun memilih kembali ke Makassar lalu Benteng.

Di Benteng, dia sempat kerja di Kantor PLN Benteng namun memilih keluar pada tahun 1990 karena gaji yang diperolehnya tidak pas dengan kebutuhan keluarganya. Anwar gagal jadi tentara dan tidak betah menjadi pegawai perusahaan PLN.

Dia kemudian memilih kembali ke kampung halamannya. Memlih berkebun. Di kampung itu dia menggenapkan anaknya hingga tujuh orang. Anak sulungnya sudah berumur 20 tahun. Darinya, Anwar punya cucu. Bersama Nurhayati, Anwar menikah di Benteng, Selayar. Dua tahun setelah berkeluarga lalu punya rumah.

Lelaki berperawakan kecil ini menceritakan liku hidupnya dengan lancar. Tinggal di Luhuk sepertinya menjadi pilihan terakhirnya. Di sana pulalah dia bersama anaknya kini menggarap kebun dan mengisi hidupnya.

“Saya punya tujuh orang anak. Dua lelaki, dua perempuan” Katanya di ruangan tamunya yang remang. Hanya cahaya dari jendela yang memberi perbedaan. Ben, teman perjalanan saya duduk di sampingnya. Dia dan Anwar menghisap rokoknya kuat-kuat. Di depannya terletak kertas rokok cap Lonceng, kopi dan korek.

“Sejauh ini, ada sumber mata air di Huluk yaitu di yang dari Gentungang dan Bungung Tallu” Katanya tentang sumbermata air yang tak henti mengalirkan airnya ke bak mandinya. Mata air itu pulalah yang memberinya asa untuk dapat mengairi ladangnya.

Anak keempatnya yang bernama Irfan, yang tadi ikut mandi kini sudah rapi. Dia duduk di samping saya. Rupanya Irfan berhenti sekolah saat sampai kelas 1 SMP. Dia tidak naik kelas lalu memilih mogok sekolah.

Pak Anwar diam saja saat saya menanyakan kenapa tinggal kelas. Sang Ibu yang sedari tadi memilih diam, mulai ikut bicara. “Nalawangi gurunya,” Katanya. Maksudnya, Irfan tidak naik kelas karena melawan gurunya.

“Pelajaran Bahasa Inggris saya dapat lima. Matematika juga dapat lima,” Kata Irfan cengengesan. Sang ayah yang mendengar pengakuan Irfan menyela, “Padahal saya suka matematika waktu SMP katanya. Karena saya mau sekolah di STM,” Kata ayahnya. Pendidikan Nurhayati sebenarnya lumayan bagus. Dia tamat SMP Standar di Benteng. Namun tidak lama kemudian mereka menikah pada tahun 1990. “Anak perempuan saya bekerja di Makassar di pabrik roti.” Kata Nurhayati yang kerap dipanggil Tati ini, wanita yang tidak suka makan nasi. “Anaknya kerja di sekitar Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar,” Kata Sarbini.

Anwar lahir tahun 1964 atau kini berusia 46 tahun. Di usia itu dia sudah punya anak 7. Saya tidak melihat anak mereka yang lainnya di rumah berkamar dua itu. Hanya Irfan yang ikut menemani kami minum kopi. Irfan pulalah yang menemaninya bekerja di kebun.

Kini mereka menanam jambu mete. Mereka pelaku ladang berpindah, sebagaimana lazimnya warga di Huluk. “Dulu saya pinjam pakai ladang orang lain,” Katanya. Saya menanam pohon jati dan “holasa” dengan sistem bagi hasil. Anwar kini menggarap tanahnya sendiri dengan jambu mete.

Irfan di samping saya mendengar obrolan kami dengan serius. Dia terlihat lebih tua dari umurnya yang masih 14 tahun. Dia mengisap dalam-dalam rokoknya. Gayanya sangat dewasa. Sebagaimana ayahnya, Irfan muda kini sibuk berkebun. Letak kebun mereka di sebelah timur Kampung Huluk. Jalan menuju ke sana adalah jalan setapak.

Saya perhatikan, Irfan sesekali mengangkat kakinya tanpa sadar dan dengan serius menghisap rokoknya dengan perlahan. Nikmat sekali. Dia terlihat sangat dewasa. Lelaki muda yang tak selesaikan sekolah SMP-nya itu terlihat bahagia.

Benteng, 28052010

Dari Kalaotoa Ke Singapura

Laut tenang pada senja yang temaram. Horizon bumi dibalut awan berserak berbias merah tembaga, tepat di atas kaki langit Pulau Selayar pada tanggal 2 Juni 2010, matahari beranjak benam.

Saya baru saja merekam beberapa momen di sekitar Dermaga Benteng. Kamera Nikon kesayangan masih menggantung di leher. Saat bersiap pulang ke penginapan, saya melihat seorang lelaki berbaju kaos putih bersandar pada tiang sisi kanan perahu kayu bercat putih pucat.

Wajahnya samar. Saya mendekat dan menyapanya. "Kapal dari mana, pak?" seraya menunjuk badan kapal. Lelaki dengan sorot mata tajam berkulit hitam, berkumis tipis yang duduk sedari tadi menjawab singkat, "Dari Kalao Toa,". Kalao Toa adalah pulau ujung tenggara-selatan Selayar, berdekatan dengan Pulau Madu dan Pulau Kakabia, antara wilayah Sulawesi Tenggara dan Laut Flores.

Saya memuji kapalnya yang besar dan bersandar di sebelah utara dermaga Kota Benteng. Karena dia duduk, di atas tepi geladak maka saya pun memilih jongkok untuk menatapnya dengan setara.

Namanya Abdul Kadir, umur 30 tahun. Bersama tiga orang ABK dan seorang Nakhoda, mereka tiba kemarin, tanggal 1 Juni 2010 dari Pulau Kalao Toa dengan membawa kopra seberat 5 Ton. Selain kopra, kapal yang dinakhodai Sanusi ini juga mengangkut sepuluh orang penumpang dari pulau di ujung tenggara Kabupaten Kepulauan Selayar tersebut.

"Kopranya sedikit, hanya 5 ton padahal bobot kapal bisa sampai 35 Ton," Kata Kadir. Namun begitu, mereka masih beruntung karena ada 10 penumpang yang membayar Rp. 100ribu sebagai biaya sewa kapal. Lumayan untuk mengurangi biaya solar yang dibutuhkan sebanyak dua drum. Butuh waktu selama 18 hingga 20 Jam mengarungi laut Flores untuk sampai ke Benteng ini.

Sudah dua tahun ini, Kadir menjadi ABK di kapal Sanusi. Abdul Kadir lahir dari bapak Buton dan ibu Selayar. Dia tinggal di Desa Kalao Toa, bersama istri bernama Mulyana dan seorang anak bernama Edwin berumur 1 tahun.

Kadir, anak ketiga dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 SD lalu berhent. Satu kakak perempuannya menikah dengan lelaki asal pulau Buton.

Kalao Toa memang dikenal sebagai pulau yang dihuni oleh beberapa warga keturunan Buton dan Selayar seperti dari Kampung Tajuiyya dan Tanete. Bapak Kadir bernama Idris. Kadir lahir pada tahun 1980. Selain bekerja sebagai ABK, Kadir juga mempunyai beberapa are kebun kelapa dan tanaman jagung.

Mengangkut Cakar

Ada cerita menarik yang disampaikan Kadir tentang pengalamannya berlayar.

Kadir sudah pernah berlayar ke Kupang, Kendari hingga Singapura. "Tahun 1992, saya pernah ikut berlayar ke Singapura bersama Nakhoda bernama Haji Ramli. Dalam tahun itu, saya sempat berlayar dua kali ke sana" Katanya. Saat itu Kadir sebagai kru kapal yang membawa rotan dari Sulawesi Tenggara menuju Singapura. "Waktu itu, kami berlayar dari Kota Kendari, kemudian melewati Surabaya, Belitiung, Tanjung Pinang, hingga melintasi Batam," Ungkap Kadir.

Butuh waktu 13 hari kapal yang diawaki Kadir untuk sampai ke Singapura. Setelah membongkar muatan rotan di sana, Kadir cs menghabiskan waktu 15 hari di Singapura untuk mencari muatan.

Tahun-tahun itu memang sedang booming bisnis pakaian rombeng atau cap karung (cakar) atau pakaian bekas asal Singapura. "Dari Singapura, kami membawa berbal-bal pakaian bekas," kisah Kadir."Saat itu kami sempat diperiksa polisi, tetapi tidak dipersulit," Kata Kadir.

Rupanya, kapal yang dinakhodai Haji Ramli (kini almarhum) dari Singapura itu juga punya target lain, membawa pakaian bekas itu ke Pammana. Pammana, adalah satu wilayah di Flores yang terkenal sebagai pusat distribusi pakaian bekas tahun 90an.

Kampung Pammana ditempuh selama 10 jam dari Kalao Toa, kampung Abdul Kadir. Upah yang diperolehnya selama pelayaran itu selama satu bulan setengah itu, dia memperoleh Rp. 600 ribu."Saat itu saya belum menikah," Katanya. Kadir yang saya jumpai sedang menjaga kapalnya mengaku selain menjadi ABK dia juga mengurus kebunnya.

Di Pulau Kalao Toa, walau termasuk pulau besar namun tanaman utama sebagai modal ekonomi warga adalah kelapa dan jagung. Walau luas, masih banyak warga yang belum sepenuhnya memanfaatkan lahan-lahan di pulau Kalao Toa.

Kadir adalah potret warga pulau yang tetap menggantungkan hidupnya pada geliat laku ekonomi pulau-pulau jauh seperti menjadi pelaut sekaligus mencoba bertahan di desanya dengan memanfaatkan lahan produktif.

Cerita Kadir, cerita warga kebanyakan. Entah apa yang akan dimuatnya ke Kalao Toa kelak. "Saat ini kami belum tahu apa yang akan dimuat ke Kalao Toa,".

Benteng, 02/06/2010.

Villa Tanri Di Huluk

Jumat tanggal 28 Mei 2010. Kota Benteng, ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar cerah berbalut awan tipis. Pukul 09.00, setelah mengisi bensin, bersama Sarbini alias Ben, sahabat facebook, kami mengarah ke Kampung Huluk di timur kota. Menurut Ben, di Huluk terdapat villa kepunyaan Tanri Abeng, manajer semilyar kelahiran Huluk.

Butuh sejam untuk sampai ke Kampung itu. Jaraknya hanya 8 kilometer dari Kota Benteng. Kami melewati beberapa desa, jalan aspal yang di kiri kananya dipadati rindang pohon. Pohon-pohon kenari, kemiri, kelapa, jati dan vegetasi lainyya. Lekuk jalan yang tidak terlalu lebar yang kami lewati basah dan segar. Hujan semalam membuat keadaan terasa nyaman.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam (kami kerap berhenti untuk memotret) akhirnya kami sampai di puncak Kampung Huluk.

Villanya seperti bertengger di ketinggian yang memang disiapkan untuk satu bangunan saja. Luasnya tidak lebih 50 x 50 meter. Villa itu ditopang oleh belasan tiang beton dengan kayu biasa. Dia menghadap ke arah utara. Dari villa, terlihat hamparan laut membentang di sebelah timur Pulau Selayar. Kabut dan rinai hujan menghalangi pandangan kami untuk melihat lebih dalam lekuk-lekuk bukit sebelah utara. Dari titik ini pula pantai barat Selayar juga jelas terlihat. Walau dihalang kabut dan awan tipis, pemandangan dari bangunan itu sangat indah.

Namun demikian, bangunan yang telah dibangun sejak dua tahun lalu ini terlihat sepi. Sarbini yang telah terbiasa ke tempat itu menyebut bahwa banyak orang dari Benteng yang mengaso dan menghabiskan waktunya di sini. Lelaki berkacamata ini mengaku kerap menghabiskan waktunya dengan beritirahat di sini.

Di villa, ada ruang tengah yang lapang. Ada tiga kamar di sisinya. Saat melihat ada kunci tergantung di pintu depan, Ben segera membukanya. Dua di sisi timur dan satu kamar besar di bagian barat. “Kamar sebelah barat ini yang selalu dihuni Pak Tanri jika menginap di sini” Kata Ben.

Ada tiga pintu masuk di villa yang sangat kokoh itu. Pintu belakang mengarah ke satu hamparan semen cor yang menyerupai helipad. Terdapat dua kamar mandi. Satu di kamar sisi barat dan satu di ruang belakang. Villa yang memanjakan pandangan mata karena di kiri kanannya terdapat jendela yang lebar. Mata bisa berkelana ke segala penjuru Selayar.

Melihat posisinya, villa ini sangat strategis, sayangnya belum ada upaya untuk menata dengan apik termasuk menjadikannya sebagai rumah wisata untuk disewakan. Menyewakan villa itu bagi masyarakat umum akan bermanfaat untuk membuatnya berdenyut, nyaman dan bukan semata panggung kelas sosial.

Pagi Di Lapangan Syech Yusuf

Minggu, 6 Juni 2010 pukul 06.00 bersama anak kedua, kami bergegas ke area Syech Yusuf Discovery, Sungguminasa untuk olahraga. Donnie hendak main bola, saya jogging. Bukan hanya untuk olahraga, area di jantung kota ini adalah juga pusat keramaian, hiburan sekaligus denyut nadi dan wajah sosioekonomi warga. Disebut demikian karena mulai dari penjaja bakso, aneka minuman, ragam asesoris hiasan, mainan, nasi kuning, hingga "warung soto mobile" tumpah ruah di sana. Saat jogging saya lihat seorang duduk bersila menjajakan jadwal piala dunia. Juga penjaja kartu perdana GSM dengan baju seragam. Demikian pula dengan lagak dan gaya para remaja yang coba menarik perhatian. Pagi yang bersolek.

Dengan topi Spanyol, bola kaki kuning hijau Brazil dan kostum AS Roma, Donnie sangat antusias. Walau dia tahu, lapangan bola Syech Yusuf pasti untuk orang dewasa saja. Ya, dia dan beberapa teman yang ditemuinya pun memanfaatkan daerah belakang gawang lapangan untuk main bola.

Tapi ini minggu yang tak biasa. Rupanya di Jalan Tumanurung, utara lapangan sedang ramai oleh adu balap remaja. Belasan motor dengan mesin menderu, liar dan memekikkan telinga silih berganti baku salip. Penonton memenuhi sisi jalan.

Sebagai warga Sungguminasa, saya kaget, rupanya kejadian begini sudah lama berlangsung. Dan, itu hanya beberapa meter dari Kantor Bupati. Selama ini, setiap sore yang saya lihat saat pulang kantor hanya anak-anak muda yang kerap uji ketangkasan di atas roda dua dengan manuver dan akrobat di sisi timur lapangan.

"Hampir tiap minggu pagi begitu, pak" kata dua orang warga. Yang satu penjaja minuman dan satunya wanita penjaja kalung besi putih.

Balapan liar, ulah yang mencederai pagi, mengganggu warga yang hendak berolahraga dan tentu saja mengancam keselamatan pengendara lainnya. Benar saja, setelah polisi datang pada pukul 06.30 para remaja tersebut segera lari. Sebagian lainnya kabur ke barat kota. Saat polisi datang, saya tidak yakin mereka kapok, mungkin mereka akan datang lagi minggu berikutnya, seperti kami yang tetap ingin olahraga di lapangan kebanggaan warga Sungguminasa itu.

Mawar Di Pamatata

Masih pagi di area terminal penyeberangan fery Pamatata, Selayar. Seperti biasa, saya mampir di warung model kopel dengan sajian khas nasi santan plus ikan bakar. Ini adalah menu favorit saat bertandang ke Selayar, kabupaten paling selatan Sulawesi Selatan

Seorang wanita tua, pemilik kios, umurnya 64 tahun bergegas menyiram minyak tanah dan menyulut sabut di bilik belakang. Dia memilih beberapa ekor ikan dari dalam ember plastik hitam. Dua beronang kecil seukuran telapak tangan telah rebah di atas panggangan. Si nenek jongkok mencakung, sesekali meniup ke kumpulan sabut kelapa.

Saya duduk dekat pintu mengarah ke teras warung. Orang orang bergegas turun dari bus yang ketinggalan fery pertama. Ada empat bus yang mesti menunggu pemberangkatan kedua, pukul 13.00 siang. Jumat itu, jadwal fery lebih cepat sejam dari biasanya. Kami telat tigapuluh menit.

Perut saya masih kembung, lalu segera memesan teh manis hangat. Asap dari dalam warung menyeruak memenuhi ruangan.

Saat menikmati sarapan dan segelas teh hangat itu, seorang anak perempuan, berumur 14 tahun telah duduk di belakang saya. Dia mematung di dekat pintu. Rambutnya lurus hitam walau beberapa ujungnya terlihat pirang. Sepertinya karena terlalu sering kena terik matahari. Tapi dia mengikatnya rapi. Perempuan mungil berwajah oval ini penuh keringat.

Dia adalah salah satu pembantu si nenek di kios tersebut. Saya sebut dia Mawar. Wajahnya tidak biasa, hidungnya terlihat seperti punya Cut Keke artis berdarah Aceh itu. Matahari yang semakin meninggi di pukul 11.00 wita membuat wajahnya memerah, penuh keringat.

Suasana dalam area pelabuhan penyeberangan fery sedang panas. Kening dan pipi Mawar penuh biji keringat. Anak belia yang beranjak gadis ini baru saja menghidangkan kopi susu ke seorang penumpang bus. Dia mengenakan celana jeans dan baju t-shirt kelabu.

Saya iseng bertanya. "Siapa itu," sambil menunjuk wanita tua yang memanggang ikan tadi. "Nenek saya," jawabnya.

Saat saya bertanya sejak kapan bekerja di sini, wajahnya terlihat bingung lama menjawab sebisanya, "Sudah lama," katanya. Tapi dia tidak ingat persis tahunnya.

"Sejak kecil saya sudah di sini," sambungnya seraya mengayunkan kakinya, seperti anak-anak yang sedang main ayunan. Mawar gagap saat saya tanya siapa nama ibu dan bapaknya, berapa bersaudara, lahir dimana. Wajahnya ditekuk. Sorot matanya mati. Diamnya membuat saya tertegun. Ada yang hijab, saya penasaran.

Tentang Mawar

"Panjang ceritanya," kata seorang wanita paruh baya saat dia dengar saya menanyakan siapa bapak dan ibu Mawar. Si nenek yang sedari tadi diam saja ikut bicara.

"Sudah lama Mawar ikut sama saya. Sejak kecil," terangnya. Lalu mereka bercerita tentang siapa Mawar dan mengapa sampai di Pamatata.

Tidak ada jawaban yang pas tentang siapa dan apa profesi ibunya. Menurut si nenek, Mawar dilahirkan oleh seorang wanita pekerja di Makassar yang bersuamikan pria yang bekerja di satu kota di ujung utara Sulawesi Selatan.
"Tapi bapak Mawar meninggal karena kecelakaan, seperti yang dibeberkan oleh ibunya," Kata wanita tadi.

Awalnya, ibu Mawar kost di salah satu rumah anak si nenek di kawasan Panakukang, Makassar.

"Saat itu dia masih gadis," Kata si nenek. "Secara pasti saya tidak tahu apa kerjanya, terlihat sibuk terus, kata orang-orang" kata wanita yang menemani si nenek. Hingga beberapa saat kemudian, tersiar kabar si wanita telah dipersunting oleh seorang lelaki yang mengaku berprofesi sebagai pekerja media.

Ada empat saudara Mawar, sebelum si bapak meninggal. Si ibu, yang digandoli empat anak membuatnya susah. Empat orang anak terasa berat saat itu, dengan beberapa himpitan ekonomi. Tidak lama kemudian, dia menikah lagi dengan seorang lelaki asal kabupaten di selatan Makassar.
"Kini mereka mengadu nasib di pulau jauh," Kata wanita tadi.

Mawar Tak Sekolah

Mawar ikut si nenek karena ibunya yang menawarkan ke si nenek saat dia berkunjung ke tempat anaknya di Makassar beberapa tahun silam. Anaknya punya rumah kost tempat dimana ibu Mawar tinggal. Mawar kecil kemudian dibawa ke Selayar. Di sana dia dibesarkan oleh si nenek. Lalu disekolahkan.

Mawar mengaku berhenti sekolah sejak kelas II SD. "Saya selalu tidur kalau pergi sekolah," ungkapnya.

"Apakah karena sering tidur telat?" Tanyaku. "Tidakji" jawabnya.

"Masih mau sekolah?". Mulut Mawar terkunci. Wajahnya beku, matanya padam. Ajaib dia bilang, mau! Saya terkesima.

Setelah berhenti, Mawar memilih tinggal di warung bersama wanita tadi. Diapun diajari bagaimana menjadi bagian dari pekerjaan si nenek. Padahal sebelumnya, Mawar mengaku sangat suka pelajaran Matematika dan bahasa Indonesia.

Mawar kini adalah pembantu belia warung nasi santan. Mawar sangat paham bagaimana memasak nasi santan, bagaimana menyiapkan garam, minyak dan menyiapkan kuah santan.

"Saya juga sudah bisa buat nasi kuning," Kata Mawar. Dua jenis nasi itu telah dikuasainya.

Dua makanan itu selalu tersedia menunggu selera para penumpang dari arah Selayar yang datang sedari subuh. Jika nasi santan dihidang terbuka maka nasi kuning ditaruh di paket plastik lengkap dengan ayam dan mie goreng. Bukan hanya itu Mawar juga rajin menyapu, membersihkan warung dan membantu sang nenek menyiapkan air.

"Apa cita-citamu kalau besar?" Tanyaku padanya sebelum menuju ke fery. Waktu sudah mendekati pukul 13.00 wita. "Belum ada," Kata Mawar.

"Sudah ada berapa tabunganmu? "Seratus ribu," katanya sigap. Dia menyimpan uangnya pada si nenek. "Mau dibelikan apa uangnya nanti?" Tanyaku lagi dengan senyum menyelidik. "Beli emas," jawabnya singkat. Tiga orang gadis dan dua lelaki yang dengar jawaban Mawar, tersenyum dan saling memandang. Sepertinya tak percaya dan tak yakin dengan rencana Mawar.

Pluit fery sudah meraung, saya segera naik bus untuk kemudian mengarah ke mulut fery. Saat saya berdiri mengemas barang bawaan, si nenek memanggil Mawar, "Siapkan api di belakang, ada orang mau makan nasi santan,"

Pamatata, 04-06-2010

Jalan Kami Diperbaiki

Pukul 06.00, tanggal 9 Juni 2010 saat menyusuri jalan di kompleks perumahan kami mengarah ke depan Rumah Potong Hewan Tamarunang, Somba Opu Gowa, saya dapati dua wanita berdiri dan memperhatikan jalan yang baru saja diaspal butas. Sepertinya dikerjakan saat dinihari semalam. Dari tempat mereka berdiri terparkir dua truk tronton besar sekali, di depan rumah warga. Truk yang telah ada bertahun-tahun di situ.

"Kira-kira sampai kapan aspal ini bertahan?," kata salah seorang dari mereka. Saya tersenyum. "Wah, saya tidak tahu soal jalan," kataku. Sepertinya mereka khawatir dengan tinggi aspal dan labilnya sisi jalan, apalagi melihat mobil besar yang sering melewati jalan ini.

Sebagai warga Tamarunang, tentu saja saya senang. Jika sebelumnya penuh lubang dan tak nyaman dilalui maka kali ini sangat berbeda. Dikerjakannya jalan ini setidaknya menunjukkan bahwa kompleks kami diperhatikan oleh pemerintah, sebab selama ini hanya janji yang kerap berseliweran. Bukan hanya itu, lokasi perumahan kami persis di sisi sungai Jeneberang, jadi ketakutan bahwa area kami "illegal" bisa ditepis dengan diperbaikinya jalan ini.

Perbaikan jalan di Tamarunang ini tidak tunggal. Tanggal 6 Juni saat berkunjung ke rumah orang tua di Galesong, hal yang sama terlihat di antara jalan Tana Bangka, Bajeng Barat hingga memasuki batas kabupaten Takalar. Demikian pula saat pulang melewati jalan antara Desa Bontolanra, Galesong Utara, Takalar hingga Kampung Kalukuang. Beberapa ruas jalan telah diratakan.

Sungguh, sebagai warga Gowa kami sangat berterimakasih atas perbaikan jalan ini. Kebahagiaan itu akan semakin jelas saat tahu berapa dana yang telah dianggarkan untuk sarana publik ini. Saya belum melihat "papan informasi proyek" di ruas jalan yang saya lewati itu, sebagaimana lazimnya proyek dari pemerintah.

Polarisasi Di Binanga Benteng

Ilmiahwan, adalah satu peserta pelatihan fasilitator asal desa Lowak, Kabupaten Selayar yang saya kenal sejak bulan Desember 2009. Darinya, saya mendengar satu komunitas yang memiliki bukti sejarah kuno dari daratan Selayar.

Komunitas itu disebut, masyarakat "Ito Loweq". Dari Ilmiahwan, saya mendapat beragam informasi dan gambaran fondasi struktur masyarakat tradisional itu yang masuk ke wilayah administrasi Desa Lowa. Menurut Ilmiahwan, sisa peninggalan komunitas Loweq dapat ditemukan pada gua-gua di sebelah timur desa. Tulang belulang manusia yang berserak mengisi lereng-lereng bukit, semacam kuburan batu.

***

Saya belum sempat menulis tentang Komunitas Ito Loweq, hingga kemudian bertemu Said Abdul Gani. Salah seorang putra dari kawasan sekitar Loweq yang disebut mempunyai hubungan keluarga dengan tokoh-tokoh kunci pendiri desa di sekitar Loweq.

Said adalah staf pada kantor Bappeda Selayar yang sangat mengetahui sejarah, budaya dan situasi kontemporer komunitas itu, utamanya dengan adanya fakta bahwa terdapat tiga agama di di beberapa desa di selatan Selayar.

Menurut Said, cabang-cabang komunitas Lowa dapat dijumpai di sekitar Desa Binanga Sombaya, Lantibongang, Tongke Tongke, dan Desa Lowa dan itu terkait dengan perubahan-perubahan sosiologis dan intervensi pemerintah termasuk penetapan agama resmi.

Said yang saya jumpai tanggal 02 Mei 2010 di kedai kopi Tjoelang di Kota Benteng, mengatakan bahwa komunitas Ito Loweq adalah basis perkembangan sosial budaya di selatan Kota Benteng Selayar.

"Saat ini, terdapat tiga agama "resmi" di sana, Hindu, Kristen dan Muslim," Katanya. Muslim hanya berjumlah sekitar 20 persen. Selebihnya dibagi antara yang beragama Hindu dan Kristen.

"Biasanya, malam minggu, umat Hindu akan melakukan sembahyang di rumah masing-masing. Tidak ada rumah ibadah yang pasti. Ada dupa dan kelengkapan ibadah lainnya," Katanya. Umat Kristen akan ke gereja karena di Binanga Sombayya telah ada satu gereja.

"Walau ada tiga agama, namun mereka sulit dibedakan karena mereka membaur. Tidak ada warga yang mengenakan kalung salib, mereka juga ikut ramai saat lebaran idul fitri. Walau mereka tidak pergi shalat namun mereka menyiapkan kue atau makanan lainnya”.

Menurut Said, perkembangan Muslim di Binanga Sombaya juga menarik dipelajari, termasuk bagaimana mereka terpolarisasi. Ceritanya dapat dimulai dengan melihat kiprah seorang Syech yang diyakini keberadaannya oleh dua masyarakat, masyarakat Bantaeng dan Masyarakat Binanga Sombayya, Selayar.

Syech itu adalah Syech Abdul Gani atau warga Selayar menyebutnya Tuan Abdul Gani. Sepengetahuan orang Bantaeng, Syech Abdul Gani ada di Saudi dan disebut sebagai penganjur Islam di Bantaeng. Itulah mengapa ada mesjid tua di sana bernama Mesjid Syech Abdul Gani. Tetapi oleh masyarakat Binanga Benteng, percaya bahwa Syech Abdul Gani tidak dikuburkan di Saudi Arabia tetapi dikuburkan di Binanga Benteng.

"Syech Abdul Ganilah yang mengajarkan Islam di sekitar Kampung Binanga Sombaya. Namun demikian pengaruh budaya lokal, utamanya tradisi komunitas Lowa sangat kuat perkembangan ajaran Islam di sana," Kata Said. Saat itu, terdapat aliran kepercayaan yang tidak menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Bahkan lebih condong disebut aliran lain, aliran kepercayaan kuno ala warga "Ito Loweq".

Islam boleh datang tetapi pengaruh tradisi dan budaya lokal masih sangat kuat. Tahun tujuh puluhan, saat pemerintah merapikan agama warga ke dalam lima agama resmi, maka banyak pengikut aliran kepercayaan tersebut yang kocar kacir.

Selain dia terdapat pula nama Tuan Muhammad, anak dari Tuan Barri yang disebut sebagai pionir ajaran ini, mereka disebut sebagai tokoh yang berpengaruh dalam merebaknya aliran itu. Setelah intervensi pemerintah dalam pengawasan agama, ada beberapa pengikut yang hengkang ke pulau lainnya di Makassar termasuk ke pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi yang dikawal oleh Ince Rahim.

“Saya dengar selalu ada peringatan wafatnya Ince Rahim bagi pengikut ajaran ini di pulau-pulau yang menjadi target pengembaraan mereka”, Kata Said. Ince Rahim, berasal dari Padang. Tidak jelas, padang yang dimaksudkan ini Padang, Selayar atau Padang, Sumatera Barat.

“Sedangkan kuburan Tuan Abdul Gani, ada di Binanga Sombaya, tepatnya Binanga Benteng. Tuan Abdul Gani, datang ke Selayar pada 1913. Menurut Gani, Tuan Gani datang dari Bantaeng ke Selayar dan menikah di Batang Mata lalu ke Mekkah. 30 tahun mencari keselamatan dunia akhirat lalu kembali ke Binanga Benteng.

“Dalam perkembangannya, aliran kepercayaan yang berbasis Islam ini nyaris tidak melakukan syariat, shalat limat waktu, shalat tauhid. Karena mesjid tidak ada saat itu,” Kata Gani.

Dari sanalah kemudian ketika pemerintah mencoba menata ulang dan mengajak mereka untuk menjelaskan agamanya mereka pun beralih ke Hindu. Mereka menyebar ke komunitas Hindu dan Kristen. Beberapa lainnya kembali ke ajaran Islam.

Makassar 23062010

Hikayat La Tenri Dio

Pulau Selayar, di ujung selatan Pulau Sulawesi penuh daya tarik. Selain karena terpisah dari daratan utama, juga karena kekhasan bahasa, budaya dan induk etnis yang mendiami pulau yang juga dikenal sebagai Tana Doang. Secara geomorfologi dan karakter kebudayaan, walau terpisah, warga Selayar dan Bira di seberang yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Bulukumba nyaris serupa.

Dahulu, Pulau Selayar merupakan tempat persembunyian atau pelarian bagi lawan-lawan politik keluarga kerajaan Gowa, Bone dan beberapa kerajaan kecil di Sulawesi Selatan. Di beberapa pulau kecil, seperti Bonerate, Jampea hingga Kalao Toa malah merupakan persembunyian para pasukan Buton dan kerajaan dari Sulawesi Tenggara lainnya, bahkan Nusatenggara.

Jadi, tidak heran jika di sana, pengaruh etnik Makassar, Bugis, Buton bahkan Mandar sangat terasa.

Kita dapat mengenal nama-nama warga Selayar yang bergelar Andi, Karaeng, Opu, Daeng dan Ince bahkan beberapa tokoh penting, baik pengusaha, birokrat dan tokoh panutan warga malah merupakan akulturasi warga keturunan Cina dan Makassar atau suku lainnya. Bukan hanya saat ini tetap jauh sebelum lahirnya Indonesia.

Bahkan beberapa warga yang saya wawancarai Selayar menyebutkan bahwa pluralitas dan sikap egaliter mereka sekarang ini sangat dipengaruhi oleh bentukan sejarah para pendatang dari Gowa dan Bone. Eksodus yang membutuhkan pencerahan dan kebebasan politik saat itu.

“Banyak keluarga raja-raja di Selayar dulu yang menikah dengan wanita-wanita keturunan pendatang dari tanah Tiongkok” Kata Sarbini yang mengantar saya menyusuri kampung-kampung pedalaman kala itu. Bisa jadi benar, pada beberapa kesempatan saya berkenalan dengan warga Selayar yang bergelar Andi namun matanya terlihat sangat sipit.

Selayar merupakan tempat persinggahan para pedagang beberapa abad silam dari daratan Tiongkok (Cina). Bukti peninggalan nekara gong dan jangkar raksasa di Kampung Padang adalah salah satu bukti sejarahnya.

Mengunjungi Selayar berarti mengunjungi kawasan yang mempunya daya tarik dan magis kebudayaan purba (seperti Komunitas Ito Toweq di selatan Kota Benteng), komunitas ini dikenal pernah tinggal di bukit-bukit dan menyimpan mayat di gua batu. Juga, juga eksotisme sumberdaya alam yang masih belum sepenuhnya terjamah, pesona bahari, pegunungan yang dingin dan asri, dan keragaman vegetasi darat laut.

Selayar seperti cabang-cabang sejarah yang dibentuk dan diadaptasi oleh lingkungan khas kepulauan. Banyak sekali peninggalan sejarah yang sangat menarik untuk diteliti oleh berbagai pihak. Beberapa diantaranya adalah kisah Datok Ribandang di Gantarang, Hikayat Tenri Dio yang disebut sebagai anak turunan Sawerigading. Peninggalan sejarah seperti kuburan-kuburan di gua, nekara, jangkar raksaaa dan lain sebagainya. Ada beberapa catatan tentang kisah nekara dan jangkar raksasa ini.

***
Tanggal 28 Mei 2010, ditemani oleh Sarbini alias Ben, kami menyusuri sisi timur Kota Benteng, ibukota Selayar. Hal pertama yang ingin saya lihat adalah mengunjungi Kampung Huluk yang dari sana, dapat memandang hamparan laut bagian timur dan barat Selayar.

Dalam perjalanan, dengan tak terduga saya melewati beberapa kuburan tua. Bukan kuburan dengan nisan di utara, atau menghadap kiblat layaknya kuburan yang jamak dijumpai di Selayar tetapi nisan dan terlihat sebagai kuburan yang dibangun sebelum datangnya ajaran Islam ke Bumi Tana Toang.

Beberapa kuburan yang saya temui adalah yang bergelar kuburan si “Lelaki Berdarah Putih” di sisi kiri jalan menuju Huluk. Beberapa meter dari situ terdapat satu makam di ketinggian persis di kanan jalan.

“Itu adalah kuburan I Muri I La Judiu Nikana La Tenri Dio atau biasa di sebut La Tenri Dio, anak Sawerigading. Menurut bahasa setempat disebut Si Yang Tak Mandi” Kata Pak Usman yang kami jumpai di Rea Rea.

Sawerigading, bagi sebagian warga Luwu atau Sulawesi Selatan dikenal sebagai tokoh penting yang diceritakan dalam kisah La Lagaligo. Orang mengenalnya sebagai sosok luar biasa dan mempunyai kekuatan digdaya. Sawerigading seperti dikutip dari cerita La Galigo bersaudara dengan We Tenriabeng. Sawerigading dikisahkan pergi berlayar dan berkeliling di beberapa pulau bahkan sampai ke negeri Tiongkok.

Bertahun-tahun kemudian, dikisahkan dia punya anak seperti yang diyakini beberapa warga Selayar yang kemudian singgah dan menetap di Selayar. Itulah Tenri Dio.

Di kompleks makam mini yang saya lalui itulah terdapat kuburan La Tenri Dio, anak Sawerigading. Ada empat kuburan, ada kuburan kecil yang tidak jelas siapa di dalamnya, yang satunya adalah kuburan Tenri Dio, Suaminya dan kuburan di dekat jalanan menurun, atau dikenal sebagai Si Yang Bersuara Besar atau Gallarrang Bakka Sa'ra.

“Tenri Dio dikenal sebagai seorang yang sangat disayangi oleh Tuhan dan bahkan tanpa mandipun tetap sehat dan kuat. Saat berkuasanya Tenri Dio, padi belum ditumbuk tetapi dikupas, coba bayangkan berapa lama mereka mengupas beras itu,” Kata Pak Usman.

“Memahami kisah La Tenri Dio tidak bisa dipisahkan dengan pemahaman komunitas di Kampung Tana Tappu, dan tumbuh kembangnya wilayah kerajaan Puta Bangun dan bagaimana kerajaan itu bermula dan berkembang,” Kata Pak Usman. “Di sekitar makam konon terdapat meriam yang telah tertata dengan baik untuk menghalau musuh dari ketinggian wilayah Selayar,” Katanya lagi.

“Pun pemilihan kawasan Puta Bangun sebagai pusat kerajaan di Selayar karena tepat di tengah-tengahnya Selayar,” Kata pak Usman yang saat itu sedang menunggu waktu shalat Jumat di Rea Rea.

"Saat Kampung Gantarang telah dimasuki ajaran Islam, kawasan Puta Bangun belum masuk Islam. Ada beberapa kampung yang menunjukkan beberapa bagian yang berfungsi sebagai tempat mengikat babi,” Kata Pak Usman

La Tenri Dio adalah anak tengah dari Sawerigading, yang menguasai wilayah Selayar. Dia menuju Selayar setelah mendapat izin dari orang tuanya untuk mengembara dan mengembangkan kekuasaannya. La Tenri Dio bersuamikan Lalaki Sigayya. Inilah yang mengisi kuburan di sebelah selatan atau di kaki kubur La Tenri Dio. LaTenri Dio dan keluarga tinggal di Puta Bangun. Itulah cikal Kerajaan Puta Bangun yang tertua di Selayar.

Kini makam, La Tenri Dio, Lalaki Sigayya dan Gallarrang Bakka Sara sedang direnovasi oleh salah satu kontraktor dari Benteng. Mereka memasang paving blok dan pagar batu saat saya sampai di sana.

Tidak banyak cerita atau kupasan sejarah tentang kiprah La Tenri Dio karena peninggalannya belum dikaji secara mendalam. Padahal ada beberapa yang menarik diantaranya, model kuburannya yang bernisan laksana layar. Lumut yang memadat di nisan dan batu kuburan terlihat terang karena semalam hujan. Jarak kuburan juga sangat panjang hingga lima meter dengan batu-batu alam yang kuat. Dari sini terlihat pemandangan Pulau Selayar hingga jauh ke selatan.

Di ranah keragaman budaya atau kandungan makna nukilan kisah purbakala, kuburan yang diyakini milik La Tenri Dio ini masih pantas untuk dikaji ulang, setidaknya mencari pertautan hubungan antara defenisi purba, sejarah, dan situasi kontemporer. Jika melihat fakta bahwa warga masih menyimpan harapan kepada kuburan itu dengan berdoa dan menaruh sesajen dapat disebut bahwa pertautan kisah dan sikap warga jelas berkaitan.

Jika benar, pemerintah kabupaten Selayar atau pihak-pihak yang selalu menasbihkan diri sebagai pemerhati sejarah, seperti perguruan tinggi, atau LSM yang peduli kearifan lokal, maka kisah dan peninggalan kuburan La Tenri Dio ini merupakan tantangan untuk mempertegas keunggulan budaya lokal itu. Hal yang selalu mereka perjuangkan.

Bagaimana pun, sejarah seperti kisah tertulis dan tutur warga itu sangat berpengaruh pada situasi kontemporer warga. Seperti yang saya lihat saat datang ke sana, beberapa warga masih menyimpan telur, sesajen dan kemiri. Entah apa yang mereka harapkan. Ada yang tertarik menggali lebih dalam kisah menarik ini?

Lekuk Tanakeke

Tanggal 14 Juni 2010, tepat pukul 10.00 wita, jolor atau perahu kayu kecil bermesin dalam khas milik nelayan Makassar meninggalkan bahu sungai Takalar Lama. Perahu kecil warna kuning itu sarat penumpang. Kebanyakan ibu-ibu yang pulang berbelanja di pasar-pasar kota. Mereka hendak pulang ke perkampungan mereka di Kepulauan Tanakeke. Ada yang akan menuju Kampung Tompotana, Lantangpeo dan Cambaya.

Di atas jolor, delapan drum mengisi palka yang terbuka. Isinya solar dan minyak tanah. Para penumpang wanita telah duduk bersila di atas ruang kemudi. Mereka merapat satu sama lain. Saya memilih duduk di sisi kiri jolor yang bergerak seperti sebatang bambu di atas air, oleng kiri kanan.

Cuaca sedang teduh. Jolor meninggalkan muara sungai yang ditumbuhi pohon-pohon nipah dan bakau yang mulai langka. Kami lepas Kampung Lamangkia dan mengarah ke Kampung Tompotana. Di dekat muara, terpasang berkarung-karung penahan ombak.

***

Butuh waktu dua jam untuk kami sampai di beranda Kampung Tompotana yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Maccini Baji. Sepertinya, kampung ini berada di bagian selatan gugus pulau Tanakeke.

Pulau Tanakeke sendiri dikenal sebagai pulau yang rawan bagi kapal-kapal pengangkut barang dari Selayar dan Flores. Beberapa dari mereka kerap terperangkap pada hamparan dasar perairan yang dangkal, apalagi saat ombak kencang. Beberapa kapal karam di sekitar Tanakeke terjadi pada musim barat. Mereka terseret arus kuat antara Selat Makassar dan Laut Flores.

Di atas jolor saya berkenalan Basri Daeng Rangka, warga desa Cambaya berumur 23 tahun. Dia mengaku kuliah di salah satu perguruan tinggi cabang di Takalar. Juga Bahar yang tinggal di Kampung Lantangpeo serta Muhammad Darwis yang tinggal di Kampung Tompotana.

Dari atas jolor, kami menyaksikan panorama yang mengagumkan di Tompotana, rumah warga warna warni, bagai parade kebebasan ekspresi jiwa warga pulau, hijau, merah, pink hingga oranye.

Di depan perkampungan, laut terlihat seperti kolam renang raksasa dengan kepala para perenang yang silih berganti muncul di permukan, itu adalah hamparan botol plasti air mineral yang digunakan sebagai pelampung dalam usaha budidaya rumput laut. Satu sumberdaya laut yang telah dimanfaatkan oleh warga setempat melanggengkan kehidupan ekonominya.

Di Tompotana, rumah yang semakin bertambah banyak dan mendekati daerah pantai dan gempuran ombak musim timur memaksa warga untuk mulai mempertahankan kampung mereka dengan membangun tanggul. Di sekitar kampung, vegetasi bakau masih terlihat padat dan menghijau. Kampung ini terlihat sebagai gabungan rumah yang dikelilingi pohon bakau dan air laut.

***

Perahu kami bersandar di tanggul penahan air laut. Satu persatu penumpang turun. Beberapa wanita sibuk mengangkut karung beras. Penumpang lainnya, yang juga perempuan membantu mengangkut beban berat seperti kompor, kardus makanan, dan sayur-sayuran. Ada pula yang membawa jerigen. Mereka membeli air di Takalar seharga Rp. 2.500 perjerigen ukuran 30 liter.

Kami tidak sampai sejam di Tompotana. Setelah itu, jemputan kami datang. Perahu yang lebih kecil kini siap mengantar kami ke kampung lainnya, Lattangpeo (dalam bahasa Indonesia artinya, lumpur dalam). Bersama Rahman Ramlan, Nurlinda, Salma Daeng Sayang, Iwan, Basri Daeng Rangka, Muhammad Darwis, Bahar dan dua warga, kami pun melaju.

Air laut tenang kami menyusuri laut yang telah dipatok untuk lokasi budidaya rumput laut.

Perahu kami mengayun kiri kanan, melewati hamparan budidaya. Di dekat kami bakau jenis Rhizopora membatasi jarak pandang. Perahu meluncur pada lorong jalan laut. Kiri kanan bakau. Jarak jalan kami, lebarnya tidak lebih tujuh meter. Sangat mengkhawatirkan saat ada jolor dari depan, kami mesti berhati-hati. Hempasan air dari kecipak perahu menggoyang perahu kami dengan kuat.

Laut yang telah dikapling, bakau yang telah dibabat untuk lokasi budidaya merupakan pemandangan saat memasuki kawasan dalam pulau-pulau Tanakeke.

Siang, kami sampai di Kampung Lantangpeo. Beberapa warga telah menunggu di tengah kampung yang warganya tidak lebih dua ratus jiwa ini. Beberapa gundukan potongan kayu dan kulit kayu dapat ditemui di kampung ini. Warga masih mengambil pohon bakau untuk bahan kayu bakar dan patok bagi usaha budidaya rumput laut mereka.

Pada beberapa rumah terlihat tumpukan kayu bakau yang telah mengering. Tingginya lebih semeter. Kayu bakar bakau memang sangat digemari. Baik oleh ibu rumahtangga maupun para pengelola warung makan, seperti usaha menu ikan bakar.

“Kampung ini dulunya lumpur saja, kakek nenek kami membangunnya dengan menimbung pohon-pohon bakau” Kata Kepala Dusun Lantangpeo. Dia pulalah yang menunjukkan ke kami contoh bagaimana membangun gundukan tanah dengan menempatkan kayu sebagai penyusunnya. Seperti yang terlihat di barat pulau.

Dahulu, beberapa warga berinisiatif mendatangkan excavator atau back hoe untuk menggali dan merapikan vegetasi bakau dengan membuka lahan tambak. “Belasan tahun lalu, kami pernah buka tambak. Namun tidak lama bertahan karena pematangnya rusak” Kata Pak Dusun.

Pak Dusun pula yang mengantar saya menuju salah satu penelitian penangkaran kuda laut yang di barat kampung. Di sana ada beberapa petak kolam kecil berisi kuda laut. “Ini penelitian oleh dosen dari Unhas” Katanya. Kuda laut memang sangat mudah dijumpai di perairan Tanakeke. Hewan laut istimewa ini konon dapat digunakan sebagai suplemen makanan penambah vitalitas pria.

***

Hampir tiga jam kami di Lantangpeo. Sore hari, kami pun meneruskan perjalanan ke Kampung Cambaya. Kami pamit pada Pak Dusun, Bahar dan warga setempat yang mengantar kami sampai di dermaga.

Cambaya, adalah kampung Basri Daeng Rangka. Basri pulalah yang mengantar kami kala itu. Kami melalui jalur yang sama. Melewati lekuk-lekuk kampung, pulau dan jalan perahu yang sempit antara pohon bakau, hamparan lokasi budidaya rumput laut.

Di atas Tanakeke mendung menghadang. Kami terus bergerak. Pemandangan kampung Lantangpeo dan Tompotana dalam balutan langit gelap terlihat misterius. Warna-warna terang rumah terlihat samar. Kamera yang saya siapkan sedari tadi, nyaris tak berfungsi samasekali. Beberapa burung bangau terbang jauh dari atas pucuk bakau. Luput dari rekaman.

Saat sampai di perairan Kampung Cambaya, surut menjemput. Perahu kami mesti perlahan untuk menembus jalur terdekat. Pepohonan bakau di sini juga masih terlihat padat. Namun dari kejauhan bekas tebangan terlihat masih baru.

Kami pun mendarat di Cambaya dengan terlebih dahulu membalut kaki celana. Perahu tidak bisa merapat ke pantai. Dalam hitungan menit kami pun sampai di rumah Basri.

“Kampung ini kampung yang tenang, masih sangat asri,” Kata Linda. Kampung yang terasa nyaman karena berada di timur pulau. Di sana, matahari terbit di atas daun-daun bakau. “Saat musim timur, angin yang berhembus di antara pohon bakau sungguh mengasikkan,” Kata Linda lagi.

Bukan hanya potensi hutan bakau, di Cambaya terlihat jelas bahwa potensi rajungan (kepiting terbang) merupakan modal usaha yang terbilang tinggi dan ekonomis. Banyak warga di sini yang memanfaatkan pukat untuk menangkap kepiting rajungan. “Selain potensi rumput laut, Kampung ini bertahan dari pemanfaatan hasil laut seperti rajungan. Kampung kami bertahan dari modal sumberdaya alam laut” Kata Basri.

Ancaman terbesar kampung ini adalah semakin berkurangnya pohon bakau karena penebangan. “Walau beberapa warga berinisiatif menanam pohon bakau, namun ada warga yang masih menebangnya untuk menjual arangnya ke Makassar,” Kata Rahman, salah seorang aktivis peduli Tanakeke yang menemani saya selama perjalanan.

Kunjungan kami ke tiga kampung itu hanya sampai pukul 17.00 wita. Setelah itu, kami mesti mendorong jolor untuk kemudian kami tumpangi lagi ke Takalar Lama.

Makassar 29 Juni 2010

Tentang Panyingkul

[1]

Satu siang di kamar pondokan tanpa papan nama. Di depannya terhampar rawa-rawa yang ditumbuhi kangkung liar, hijau tua. Pemandangan khas Tamalanrea. Kami tinggal persis di sisi barat pagar lapangan tenis Kampus Unhas. Saya sedang santai di kursi reot seusai main tenis pagi sebelumnya, saya pemain sekaligus kacung bola tenis pada dosen dan pegawai. Tidak apa.

Muhammad Arif Sutte, kawan sekamar baru pulang dari unit kegiatan himpunan mahasiswa Ilmu Tanah. Di tangannya, satu koran kampus Identitas menarik perhatianku. Saya tidak ingat persis, judul satu artikel di satu lembarannya, penulisnya saya juga tidak yakin, jika bukan Moch Hasymi Ibrahim pastilah Farid M Ibrahim. Yang saya ingat ada Ibrahimnya, salah satu dari mereka menulis tentang pentingnya kritik sosial yang bermula dari kehidupan kampus yang mesti terbuka, juga menyorot revitalisasi nilai budaya di Sulawesi Selatan. Menurutnya kampus, sejatinya sumbu gerakan itu.

Kedua nama tersebut kemudian bertemali ke Lily Yulianti Farid yang selalu saya baca reportasenya di Harian Kompas langganan kantor kami beberapa tahun kemudian saat saya bekerja untuk satu LSM di Makassar. Dua yang pertama bersaudara kandung dan yang terakhir istri Farid. Mereka dikenal sebagai aktivis kampus kala itu. Tepatnya penggiat karya sastra dan jurnalisme kampus. Saya bukan. Saya berkenalan dengan Lily dari Pahir Halim, senior saya di Lembaga Pengkajian Pedesaan Pantai dan Masyarakat (LP3M).

Saat itu, Lily yang sedang hamil tua datang ke kantor baru kami di Jalan Hertasning, Makassar pada tahun 1997. Dia pasti sedang mengandung Fawwaz Naufal, anak tunggalnya kini.

[2]

Saat tinggal di Tamalanrea, membaca buku bukan hal yang saya sukai. Tapi bersyukur, saya masih mampu mengingat momen atau penggalan dalam artikel yang saya sebutkan diatas. Bisa jadi karena dua orang pertama dan yang kedua itulah yang telah memompa semangat tentang pentingnya menulis. Tentang berbagi cerita pada sesama dan sekitar melalui media warga yang mereka besut, Panyingkul!. Setidaknya, pada menginternalisasi prinsip dan upaya menjaga spirit menulis berbasis warga itu. "Satu upaya menangkis dominasi media mainstream yang kerap kebablasan dan tak berpihak ke warga," kata mereka.

Saat mahasiswa saya hanya suka satu bacaan, Tabloid Bola. Terasa malas membaca koran kampus supertipis itu apalagi kitab-kitab tebal dari perpustakaan kampus. Jamaknya mahasiswa pondokan yang lebih gandrung olahraga daripada olah baca, saya memang tidak akrab dengan buku, jurnal, apalagi pemikiran atau gagasan para ahli teori yang rumit.

Saya kira, mengikuti kuliah kampus saat itu karena hanya ingin segera bergegas jadi pekerja biasa saja. Bekerja dan dapat gaji. Itulah mengapa walau selalu hadir di senat Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan antara tahun 1992 hingga 1995 saya hanya turut ramai, masak mie instan, nonton televisi dan main domino. Nyaris jauh dari peran-peran organisatoris apalagi mengakutualisasikannya dengan warga sekitar.

Hingga menyelesaikan kuliah, saya beruntung karena saya tidak perlu repot mencari pekerjaan. Saya diterima bekerja di salah satu LSM di Makassar. Tidak ada surat lamaran. Tidak ada wawancara, hanya wejangan dari seorang yang sangat disegani di kantor itu. Lelaki rendah hati di kantor kecil depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 1996 itu berujar, “silakan bergabung, kami akan memberikan kesempatan kepadamu untuk belajar lagi”.

Begitulah, saya belajar bersosialisasi dengan warga, berkunjung ke desa, ke pulau-pulau jauh, obervasi, membaca fakta, bekerja bersama warga hingga mempunyai banyak sahabat dan relasi sosial hingga pulau-pulau jauh di Selayar, Pangkep dan pulau di beranda Makassar. Berminggu-minggu di sana, bahkan berbulan-bulan, saya kembali ke Tamalanrea, karena saat itu masih mondok di sana. Main bola, menonton televisi, main catur, tidur.

Waktu terus bergulir, narasi di curriculum vitae terus bertambah. Inikah makna bekerja dan “belajar lagi” itu?

[3]

Ngeblog

Hampir sepuluh tahun bekerja di beberapa wilayah Sulawesi, seperti Makassar, Pangkep, Selayar hingga Kabupaten Luwu maka pada Pebruari 2006 saya menerima ajakan untuk bekerja di Aceh. Saya ingin mencari suasana baru dan (sekali lagi), belajar lagi. Tentang makna kata “belajar lagi” ini ada yang menarik.

Di kawasan Lhoong Raya, Banda Aceh, dialog saya dengan Agung Prasetio sangat membekas. Tiba-tiba saya merasa “digugat”. Agung bekerja pada salah satu LSM besar di Jakarta atau boleh dibilang terbesar di Indonesia. LSMnya disebut besar karena mempunyai staf ratusan dengan proyek-proyek bernilai milyaran dari beberapa sponsor. Lembaganya punya penerbitan serta berbagai unit usaha pertanian dan perkebunan.

Dia menyodok dengan komentar berikut: “Selama bekerja di Sulawesi itu, ada yang bisa dicerita gak? Pengalaman tertulis, ada buku atau project report untuk kami sandingkan dengan pengalaman kami?”. Walau diiringi senyum canda, pernyataan dan pertanyaan itu telak. Saya kaget dan merasa gamang.

Saya tidak menjawabnya dengan persis, saya hanya bilang tentu saja kami punya catatan proyek. Tapi bukan saya yang pegang. Saya hanya bermodalkan memori, tentang tempat, rentang waktu dan beberapa nama. Saya memang telah belajar tetapi itu hanya untuk saya saja.

Mungkin beberapa gagasan telah dibagi tetapi dengan tidak “memfasilitasi atau mendokumentasikan” gagasan itu, makna manfaat menjadi sangat bias dan tidak terbaca dengan baik. Maksud Agung, adalah penting untuk mendokumentasikan gagasan, ya, menulis. Bukankah menarik saat kita menulis cerita-cerita humanis dan dinamika sosial dari puluhan desa yang kita jadikan tempat belajar itu? Untuk orang-orang bisa melek pada keadaan? Untuk orang-orang sadar bahwa ada pihak lain yang mengalami hal yang sama atau sebaliknya.

Tapi memang benar, selama ini sebagai pekerja LSM atau lembaga apapun itu, pemerintah atau dunia bisnis, kita kerap meremehkan catatan. Kita tidak terbiasa menulis. Kita selalu bangga dengan cerita-cerita. Tentang nama besar, tentang pengalaman, tentang momen tertentu yang seakan-akan hanya kita yang alami. Kita luput dari kebiasaan mencatat. Gambaran bahwa kita malas membaca, gagap teknologi, bangga dengan pengalaman bekerja, lalai membaca fakta, cenderung tertutup, layak disematkan ke diri, juga kepada beberapa generasi aktivis LSM pada masa itu.

[4]

Itulah mengapa saat sampai di Aceh, selama hampir setahun bergelimang bandwidth kencang, komputer dan ruang kantor yang lapang saya masih bergeming, tidak tertarik. Saya seperti manusia dari peradaban lampau di dunia yang serba canggih. Saya tidak suka internet. Paling hanya membuka satu-dua email, selesai.

Tapi, kawan saya yang bernama Agung Prasetio inilah yang mulai membuka cakrawala pikir kala di Aceh, tentang membuka jaringan pertemanan dan berinteraksi dengan jutaan sahabat di dunia maya. Dia memberikan opsi di tengah belitan kesibukan pekerjaan. Bersama Agung, saya jadi terbiasa menikmati minum kopi Ulee Kareng dan tentu saja mulai menulis di blog dengan a la kadarnya.

Agung ini pulalah yang beberapa waktu lalu, mengirimiku buku tentang pengalaman fasilitasi pemberdayaan masyarakat pesisir di 11 kabupaten/kota di Nias dan Aceh. Ada empat tulisan dalam buku itu yang saya tulis dengan lokus Aceh, ya semacam success story warga.

Dengan menulis, sesuatu yang tak terduga, muncul belakangan tanpa kita sadari dari mana datangnya. Agung, teman saya itu menyebutkan bahwa untuk berbagi cerita dengan kawan-kawan LSM bisa dimulai dengan mengunjungi blog atau kegiatannya. Di Aceh banyak lembaga swadaya masyarakat yang telah punya website dan blog. Dari sahabat inilah, saya berinisiatif ngeblog. Saya memilih www.multiply.com sebagai medianya, seperti punya kawan itu. Postingan pertama di multiply singkat, hanya menceritakan kampung kelahiran. (Blog dengan engine multiply itu telah saya hapus).

Bagi saya yang masih gaptek IT, postingan tertanggal 29 Juni 2007 begitu membahagiakan, ya, saya merasa kawan-kawan bisa mengenal dan mengetahui keberadaan saya. Blog pertama yang menggugah hasrat untuk menuliskan hasil pemikiran dan bagaimana membahasakan keseharian dan pengalaman. Sempat mencoba beberapa engine gratis hingga akhirnya, betah di wordpress.

[5]

Adalah Muhammad Ruslailang Noertika, saudara virtual saya, yang mengajak saya untuk bergabung dengan Panyingkul. Seperti saya, dia juga bekerja jauh dari kampung halamannya. Dia, penulis blog yang aktif dan mempunyai minat yang sama pada issu-issu sosial dan sekitar.

Berawal dari berkenalan di mailing list sekolah, dialah yang mendorong untuk bergiat dan meningkatkan skill ngeblog, menjadi penulis pemula, mengajak bergabung di forum blogger asal Makassar www.angingmammiri.org dan kemudian bergabung di media citizen reporter andal www.panyingkul.com sebagai citizen reporter sekaligus aktif di mailing list mereka panyingkul@yahoogroups.com.

Saya pun beranikan diri mengirim tulisan tentang perayaan kemerdekaan RI di Banda Aceh. Aceh saat itu masih dalam transisi politik. Saya hanya melaporkan hal biasa, cerita hari itu dan beberapa foto pendukung. Itupun karena jarak lokasi perayaan hanya beberapa meter dari tempat kerja saya di Jalan Singgahmata, Banda Aceh. Tulisan pertama saya di Panyingkul pada bulan Agustus 2007.

Berkenalan dengan Panyingkul, mengarahkan saya pada dua sosok yang saya sebutkan sebelumnya yaitu Hasymi dan Farid. Tentang ini, saya juga punya cerita. Saya sudah pernah diminta untuk bergabung di www.panyingkul.com melalui mailing list alumni Unhas yang menyebutkan andil mereka di media berbasis warga ini. Kesan pertama, saya bukan penulis aktif bahkan tidak tahu sama sekali, kedua, Panyingkul pasti hanya bertahan beberapa tahun saja. Hal lainnya, saya riskan bersanding dengan mereka yang sejak kuliah telah mengerami banyak gagasan, kisah dan hal-hal baru dan disegani di lingkungan kampus.

Apalagi saat mengingat pernyataan Agung itu, we had nothing in writings, selama bekerja di LSM. Jikapun saya bergabung pasti tidak sekarang, nanti saja.

Tapi kemudian, semangat bergabung di Panyingkul memang bukan semata-mata karena kita telah mampu menulis dengan baik namun demi menyambung atau merekatkan kembali temali persahabatan. Pada kampung halaman dan pada situasi kebatinan yang melingkupinya. Tentang perhatian, cinta dan peduli pada sesama. Makassar sebagai episentrum semangatnya.

[6]

Bergabung dengan mereka berarti mencairkan kebekuan lingkungan pekerjaan yang rigid, jenuh, membosankan dan jauh dari hiruk pikuk semangat kolektifitas Makassar yang ramai, riuh dan demokratis.

Saya sungguh bahagia saat menceritakan, kampung halaman saya Galesong, di Kabupaten Takalar dari waktu ke waktu. Menceritakan kenangan kala kanak-kanak, menceritakan pengalaman selama tinggal di sana, merekam hal positif dan menakar hal yang kurang berkenan dengan masa depan. Saya dapat menceritakan berbagai aspek kehidupan kampung, dari sisi ekonomi, sosial hingga kesadaran politik warga. Menyenangkan saat melihat bundelan catatan-catatan itu dibaca Bupati Takalar (mungkin beliau tidak membaca sampai selesai), para sahabat masa kanak-kanak, hingga kedua orang tua saya (saya yakin mereka senang dengan isi buku itu).

Menuliskan dimensi sosial, budaya dan politik tentu bukan hal mudah. Tapi di sana, di Panyingkul saya mengenal banyak sahabat baru yang mau berbagi. Beragam nama dengan profesi, latar belakang pendidikan, tempat kelahiran dengan kecintaan yang membubung. Yang sedang sekolah di luar negeri, yang sedang menggali minyak di pedalaman Nusantara, yang sedang berlayar di lautan jauh, para istri yang setia melayani suaminya untuk berdiskusi dan berseloroh riang, hingga yang anak-anak sekolahan yang curhat tentang masa-masa pubertasnya.

Saya belajar dari mereka memandang setiap dimensi kehidupan dengan seimbang. Semuanya dipaket dalam nuansa dengan prinsip universalitas, kemanusiaan dan saling menghargai. Bukan karena kemampuan menulis yang saya punyai hingga bergabung, tetapi kedekatan emosional yang lahir karena interaksi yang sangat cair a la warga biasa itu. Tiada kelas di sana.

Dari sana, siapa sangka saya dapat berkenalan seorang wanita Jepang yang punya basis organisasi di Brazil dan menemaninya di Aceh, ngobrol dengan jurnalis papan atas Indonesia seperti Maria Hartiningsih, Andreas Hersono, Linda Cristanty, Pepih Nugraha dan lain sebagainya. Mereka orang-orang yang selama ini hanya jadi gambar dalam berita, ternyata dapat diajak dialog.

Dari Makassar tentu tak terhitung berapa sahabat baru saya yang menggeluti sastra, puisi, cerpenis, fotografer, dan lain sebagainya. Mereka orang-orang yang pantas jadi oase belajar, bagi saya yang udik pengetahuan dan teknologi.

[7]

Proses Menulis

Kontrak pekerjaan saat di Aceh dari Pebruari 2006 hingga Juni 2008. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa setahun pertama saya sangat terkurung pada rutinitas beku. Pada pertengahan tahun 2007, kegairahan saya muncul saat mulai berkenalan dengan beberapa blogger dari komunitas Anging Mammiri Makassar. Berpijak dari sini seakan saya masuk ke tahap fondamen kepenulisan.

Di sana saya belajar tentang ngeblog, bagaimana mencari ide tulisan, minta tolong pada yang ahli mendisain templat blog hingga dipandu mengisi blog berbasis wordpress.

Tidak perlu menunggu lama untuk menulis di www.panyingkul.com. Jika yang lain merasa minder, tidak siap, saya malah memilih meleburkan diri dalam dialog dengan para pendirinya. Saya hanya mesti siap diledek atau dikritisi untuk mampu. Saya mengejar mereka dari milis hingga jumpa di darat (offline).

Hanya Lily - sebagai backbone P! - yang pernah saya jumpa langsung, yang lainnya lewat foto saja. Lily pun sudah 10 tahun tak jumpa, dan dia tidak “mengenal” saya secara dekat. Tapi, dari persahabatan itu, saya peroleh belasan buku bacaan, referensi, artikel, alur dialog dan empati yang hidup, hingga hadiah kue dan souvenir dari belahan bumi lain.

Dari buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” hingga “The White Men’s Burden” yang pedas sebagai kritik sosial dan lain sebagainya. Mengasikkan bukan? Tapi hal di atas tentu tidak seberapa dengan cakrawala yang semakin multiwarna itu.

Persahabatan yang teruji. Bukan melulu hal fisik tetapi dahaga batiniah dalam hal belajar dan menyerap nilai-nilai universal, saling asah-asih-asuh. Di sana tiada gap, tiada batasan umur, semua menyatu dalam wujud kolektifitas itu.

Karena dasar itu, saya sangat rela untuk menyediakan waktu berdiskusi dengan para sahabat itu, bersedia menemani saat beberapa anak SMA hendak melakukan riset kecil tentang kelautan yang menjadi bidang utama saya, tentang destructive fishing,pemberdayaan masyarakat pesisir dan lain sebagainya.

Selama melakukan perjalanan dari pesisir timur hingga pantai barat Aceh, dari Lhokseumawe hingga Meulaboh, bagi saya tentu merupakan untaian realitas yang merupakan bahan tulisan yang baik. Begitu pula, pulau Simeulue dan Nias di Sumatera Utara. Jika sebelumnya hanya menjadi catatan pribadi, disimpan di memori otak, kini tidak lagi. Semua telah dishare diblog. Perjalanan melihat dunia yang lain, tentang wajah desa, komunitas, cerita sejarah hingga kearifan-kearifan lokal di Sumatera.Kawan-kawan yang getol berdiskusi di maliling Panyingkul sangat menyukai cerita perjalanan itu.

Setahun mengenal blog, sungguh mengesankan. Dapat menceritakan pengalaman berkunjung ke kampung jauh di belahan Sumatera, Aceh, Simeulue, Nias, Medan, Lhokseumawe,Takengon dan sebagainya. Dapat pula belajar membaca sejarah negeri lain. Belajar tentang kondisi sosial budaya, bahkan lingkungan alamnya.

Oh ya, karena pertemanan di dunia maya itu pula, saya merasa tidak gagap teknologi lagi. Dengan bantuan alat komunikasi sekelas Blackberry saya semakin termotivasi untuk menulis. Terima kasih tak terhingga kepada yang telah memperkenalkan teknologi canggih ini, gadget yang sangat "beracun". Menceritakan nelayan teripang di Pulau Simeulue, keturunan Bugis di Nias, Rukiah wanita tua asal Bontonompo di Banda Aceh, hingga kisah-kisah warga biasa yang punya hubungan emosional dengan Makassar atau Sulawesi dengan mudah mengalir ke meja redaksi.

Pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika menjumpai kawan-kawan sekampung yang mencari sesuap nasi di ujung pulau Sumatera. Dia mengenal cerita saya dari blog, menelpon dan akhirnya berjumpa di Banda Aceh. Juga, menceritakan mereka mengarungi pulau demi pulau hingga bertemu di daerah pelosok desa di pulau Simuelue.

Di ranah offline, saya sangat terkesan dengan beberapa pihak yang selama ini menjadi kontributor di Panyingkul. Beberapa dari mereka adalah aktivis LSM, pekerja sosial, seniman dan penggiat pendidikan politik warga. Berbagai diskusi, bedah buku, bincang politik, pelatihan jurnalisme sastrawi, hingga penulisan dan fotografi menjadi percabangan pengetahuan yang saya nikmati setelah berinteraksi dengan mereka di Panyingkul.

[8]

Dunia kreatif yang multiwarna dan penuh talenta itu ada di sana. Juga, dunia yang bebas. Mereka yang ada di sana seperti aliran kreatifitas yang terus mengalir, melewati kelok sungai, hingga ke muara kebebasan. Apakah akan benam menjadi sedimen di muara pantai atau terus berenang, melayang, lepas menuju samudera dan palung jauh. Di Panyingkul, semua bebas menentukan orientasinya.

Di empat tahun usia Panyingkul ini, saya membayangkan suatu keadaan hiruk pikuk di muara. Tempat dimana dermaga dijumpai. Tempat di mana ada banyak ukuran dan jenis perahu bersandar. Ada yang hendak berlama-lama mengisi bekal air bersih dan kebutuhan logistiknya, atau beberapa yang telah penuh mengisi perbekalan. Semua diselaraskan. Semua diputuskan.

Begitulah, hingga masa empat tahun ini, saya tetap percaya bahwa menulis (tentang apa saja) dapat dilakukan dengan leluasa. Ibarat belajar mengasah kepekaan, menyerap nilai-nilai dan menyampaikan gagasan atas fenomena atau masalah tertentu, maka tulislah sesuai dengan kemampuan kita. Jika hanya mampu menulis a, tulislah a, jika mampu menulis bata, tulislah bata. Dengan sedikit ekspresi emoticon, pandangan (viewpoint) anda akan terbaca di seberang sana, di benua paling jauh sekalipun. Panyingkul bermula dari sini dan dengan terus menerus mendorong inisiatif warga untuk memperjuangkan suaranya, kehendak dan keadaannya. Panyingkul bertahan di posisi itu.

Waktu dan kepekaan pada sekitar akan memperkaya gagasan kita sebagai blogger atau penulis pemula. Apalagi jika telah menetapkan cinta-cita setinggi langit, misalnya menjadi penulis produktif dan hendak jadi rolemodel perubahan.

Menulis mesti didasarkan pada pemihakan domain kepentingan sosial, publik atau warga. Juga dapat berupa akumulasi dari pengalaman yang faktual. Menulis mestinya merupakan manifestasi daya kritis warga dalam memandang diri dan lingkungannya.

Selama empat tahun menjadi bagian dari keluarga bahagia di Panyingkul, saya kira gagasan warga tidak saja “dilembagakan” melalui frame berpikir kritis dan menggugat, lebih dari itu, saya memperoleh ruang ekspresi yang berbeda. Tentu saja karena metode yang berkembang di sana adalah metode warga biasa, tiada kelas apalagi guru besar dan dogma.

Selamat ulang tahun P! www.panyingkul.com yang ke-4!

Makassar 30062010