
Pagi tadi, saya hidupkan motor seraya memandang langit di barat. Ada mendung di sana. Tidak banyak yang saya pikirkan pagi itu, kecuali bergegas ke kantor. Beberapa menit di atas roda dua, atau tidak jauh dari perempatan jalan ke arah Malino dan Takalar di Sungguminasa, saya membaui gas emisi dan aroma macet yang luar biasa. Setidaknya ini sangat berbeda dari situasi biasanya, di kota Sungguminasa, selatan Makassar.
Hari ini 6 September 2010, sekitar pukul 09.00, terlihat dari jauh, jalur ke arah kota Makassar di sekitar pasar lama Sungguminasa memadat. Ada macet di sana. Di belakang Balla Lompoa juga demikian. Banyak warga yang mengambil pensiun dan gaji veteran di Kantor Pos Sungguminasa.
Tapi bukan hanya itu, rupanya kendaraan umum yang keluar dari pasar Sungguminasalah yang buat runyam. Mereka berbelok ke kanan ke arah timur dan dihadang oleh kendaraan yang mengarah kota Makassar.
Saya ada di antaranya dan berharap sederhana: pagi, bersabarlah…
Masih diam di atas roda dua, dari arah barat bunyi sirene mobil ambulance bertuliskan IASmo warna oranye dengan nomor plat DD 1282 IF memekakkan telinga, tepat di sampings saya. Saya tidak tahu apakah ada jenazah atau orang sakit di atasnya. Dua penumpang motor pengantar mobil itu coba menggeber mobil kanvas (barang) yang tidak pindah dari jalur mereka. Dia menggerakkan tangan tanda menepi. Tapi di depan kendaraan telah memadat, macet.
Dari arah timur, di belakang saya, dua truk besar juga tidak mau ketinggalan membunyikan klakson supergede. Twoetttt!!!.
Di jalan raya sempit sisa peninggalan kerajaan itu, peninggalan para penunggang kuda, orang-orang semakin tidak mau sabar. Di bulan Ramadhan yang semakin menua ini, orang-orang menyibukkan diri di pasar, mall, toko dan pusat keramaian lainnya.
Saya meneruskan laju motor, di antara dua pusat belanja bernama IndoMode dan Giant di jalan Alauddin, saya membayangkan sebentar sore dan dua hari kemudian, orang-orang yang semakin tidak mau sabar menunggu datangnya Lebaran…
Makassar, 06/09/2010
No comments:
Post a Comment