Monday, September 6, 2010

Panggil Dia Vita, Enjel...

Karena malam ini hingga malam ke-30 Ramadhan telah diputuskan oleh panitia mesjid Nurul Khalifah tidak akan ada ceramah maka saya coba mengais cerita yang saya kira layak direnungkan. Atau, jika tidak mau merenung, semoga ini dapat membuat tawa atau minimal bibir Anda sedikit tersenyum simpul.

Begini ceritanya...

Ada yang berbeda dari beberapa anak tetangga kami di Tamarunang. Mereka begitu rajin shalat shubuh. Intan (kelas 6), anak sulung saya, juga demikian. Belum usai shalat tarwih, dia sudah bilang, ”pak, nanti kita pergi shalat subuh ya,?”. “mmmhhh,” gumamku secukupnya.

Usai shalat shubuh, teman Intan, Khusnul (kelas 5), Nur (kelas 4), dan Yuyun (kelas 4) memang terlihat bahagia, mereka tertawa, saling meledek. O ya, mereka juga bawa tas kecil tempat menyimpan mukenah dan sajadah. Jika perlengkapan shalat sudah di tas, penampilan mereka layaknya hendak pesiar ke kota saja. Beberapa anak lelaki juga ikut atau berpapasan dengan mereka.

“Jalan-jalan subuh ,” Katanya. Padahal jarak dari rumah tidak lebih seratus meter. Saya selalu mengekor di belakang mereka. Sebenarnya sangat khawatir karena biasanya hingga subuh hari, beberapa anak muda masih kongkow dan kerap ditemani minuman keras.

Saya mesti mengawasi mereka. Walau mereka kerap berbisik-bisik dan meninggalkan saya, jauh di belakang.

***

Lalu ada yang membuat saya tak bisa menahan tawa saat beredar cerita tentang ulah keempat anak kemarin sore itu. Intan rupanya telah didaulat teman-temannya dengan nama Vanessa, Khusnul jadi Ajeng, Nur menjelma jadi Angel dan Yuyun ganti kulit jadi Vita.

Intan, anak saya itu rupanya jadi simpul dari pendistribusian nama yang diilhami dari sinetron salah satu televisi yang doyan sinetron, berjudul Arti Sahabat. Pemberian nama yang membuat orang tua sahabatnya kelimpungan.

Cerita bermula saat Intan dan Nur datang ke rumah Yuyun. Hanya 30 meter dari rumah saya. Yuyun tinggal bersama ayahnya bernama Daeng Ngewa dan ibunya, Sri. Daeng Ngewa adalah lelaki baik hati asal Takalar yang selalu mengantar jemput Intan ke sekolah.

Masih beberapa meter dari rumah Daeng Ngewa, “Vita…Vita…” Teriak kedua anak itu dengan manja. Panggilan, layaknya memanggil teman hendak pergi. Tak ada jawaban dari dalam rumah berbentuk kopel itu.

Di dalam, dahi Daeng Ngewa berkerut. “Inai injo nikio?,” Tanyanya heran. Siapa itu yang dipanggil?. Daeng Ngewa sadar di rumah itu hanya ada tiga nama. Siapa Vita?

“O Seri’, inai injo nikio,” Katanya pada istrinya. Sang istri hanya diam. Dia juga tidak paham siapa yang datang, dan cari siapa. Hingga kemudian , anaknya Yuyun keluar dari kamar senyum nyengir, “Saya itu yang dicari,”.

“Ringngapanna nusambei arengnu,?” Tanya Daeng Ngewa pada anaknya penasaran, “sejak kapan kau ganti namamu?,”. Sri menahan tawa,Yuyun cengengesan dan pamit hendak ke mesjid.

***

Hari masih pagi saat Intan dan Yuyun menyambangi rumah Nur. Mereka bertanya pada ibunya yang sedang mencuci . Namanya Daeng Sayang. “Tanta Sayang, manai Nur,?” .

Daeng Sayang yang masih mengenakan sarung hingga dada itu, sudah maklum ihwal penggantian nama mereka dan menimpali dengan nada ketus dibuat-buat. “I Enjel niaki lalang, rassi mea lipa’na ribangngia…”. Maksudnya, si Angel ada di dalam rumah, dia kencingi sarungnya semalam.

Ibu-ibu yang ada di depan rumah Daeng Sayang, memecahkan pagi dengan ketawa sepuas-puasanya. Intan dan temannya berlalu dengan senyum pahit. Mereka grogi dan segera ngeloyor...

Vita…Vita…Enjel…Enjel…


Tamarunang, 06/09/2010

No comments:

Post a Comment