Sunday, April 5, 2020

Indonesia Sea Large Marine Ecosystem

Coastal area in Indonesia (sources: K. Azis)

THE Indonesian Seas Large Marine Ecosystem (henceforth ISLME) region covers an approximate total of 2.13 million km2 (98% in Indonesia’s territorial waters, and 2% in the territorial waters of Timor Leste). It is at the heart of the western Indo-Pacific marine biogeographical region, where species richness is greater than in any other location on earth including corals, fish, marine mammals, mangroves, seagrasses, and seamounts. ISLME is a home for mega biodiversity and fisheries.

ISLME is a hemisphere for the future life and next generation of Indonesia and Timor Leste. Many communities are highly dependent on coastal and marine industries including fisheries, aquaculture, oil and gas production, transportation, and tourism.

Fisheries contribute significantly to livelihoods, food and nutrition security, and the local economies of coastal communities in both countries. In Indonesia, the capture fisheries production in the region reached 2.9 million tons or approximately 48% of national capture fisheries production (Capture Fisheries, 2016). Timor-Leste has envisaged the National Aquaculture Development Strategy (NADS) 2013-2030 to provide up to 40% of the country’s fish production from aquaculture.

Both countries have mega biodiversity richness of ISLME and host of Coral Triangle Initiative (CTI) and provide 2,500 species of marine fish, 500 species of reef corals, 13 species of seagrasses, 47 species of mangroves, 10,82% of the worlds coral reefs and 0.76% of the worlds seamounts. 

Clearly said that this is the evidence why this space is called the Large Marine Ecosystem region (LME).  Marine space area is determined as a Large Marine Ecosystem (LME) scientifically on the basis of its characteristics of bathymetry, hydrography, productivity, and trophically linked population.  An LME has a minimum area of 200 thousand kilometer square including coastal areas from watersheds and the estuaries to the outer limits of the continental shelf and dominant coastal currents.  ISLME is identified as LME 38 in the global list of 66 LMEs.

5 big threats

There are 5 big threats found so far, there are IUU Fishing. The Capture Fisheries of Indonesia’s Ministry reported that the lost cost due to Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) fishing worth to US$ 20 billion per year. In Timor Leste, it is estimated that over USD 40 million per year of marine resources are being stolen from Timor- Leste by foreign vessels.

Secondly, the fishing pressure issues. Fishing pressure is increasing rapidly in the region, and several fisheries within the Indonesian area of the ISLME are at the point of significant collapses such as small and large pelagics, demersal fish (snapper, grouper), and shrimp. Destructive fishing practices such as blast and poison fishing have major impacts.

Thirdly, habitat degradation: In the last 50 years, the proportion of degraded reefs in the ISLME has increased from 10% to 50%.  Damage to coral reefs from blasting and positioning fishing. The fourth threat is pollution. The pollution in ISLME are both from land and sea-based sources. This includes sewage, mining, other industrial wastes, solid waste, marine debris (plastic).

The last one in climate change. Climate change has been clearly identified as one of the most serious threats to coastal communities in the ISLME, through sea level rise, increasing and more severe storm surges and extreme weather events, increasing and more severe coastal erosion, the intrusion of seawater, and other changes to coastal and marine habitats.

GEF/FAO Initiatives

In dealing with the threats, GEF/FAO is implementing ISLME Project to enable transboundary cooperation for sustainable management of the Indonesian seas.

The FAO-led GEF project “Enabling transboundary cooperation for sustainable management of the Indonesian Seas” is designed to strengthen regional cooperation and support the effective and sustainable management of the ISLME region.

This project will play a catalytic role in addressing transboundary concerns by assisting Indonesia and Timor- Leste to restore and sustain coastal and marine fish stocks and associated biodiversity. This will be achieved through collaborative development and subsequent implementation of a Strategic Action Programme (SAP).

ISLME project covers three key components, namely, identifying and addressing threats to the marine environment including unsustainable fisheries. Secondly, strengthening the capacity for regional and sub-regional cooperation in marine resources management and thirdly, coordination with regional information networks, monitoring of project impacts, and dissemination and exchange of information.

FAO and both countries have agreed on the project outputs. There are an agreed-upon and endorsed Transboundary Diagnostic Analysis (TDA) and Strategic Action Programme (SAP) for the ISLME region. Second, capacity development and support for Integrated Coastal Management through marine and coastal spatial planning at 7 pilot sites.

The third is demonstrated local action through the implementation of Ecosystem Approach to Fisheries Management and the Ecosystem Approach to aquaculture at 7 pilot sites and collaborative habitat enhancement activities at selected sites; and participation in regional and global (IW:LEARN) communities for sharing knowledge and experience on International Waters (IW) and the Large Marine Ecosystem (LME) issues. (*)

Friday, December 31, 2010

Kado Obama

Guys, baru saja menonton acara “Inside Story” dari kanal televisi Aljazeera tentang “Non-Proliferation Treaty”, ya, semacam traktat anti nuklir. Satu hulu ledak nuklir ditengarai dapat menenggelamkan satu pulau sebesar pulau Selayar atau pulau Bali sekali pun.

***

India, Pakistan, Korea Utara, Iran, China adalah negara yang belakangan ini lekat dengan issu nuklir. Selain mereka, ada negara Paman Sam yang disebut sebagai pemain lama dan awalnya mempunyai 2.252 hulu ledak, sedangkan Rusia, eks pecahan USSR Soviet sebanyak 2.600.

Jika negara-negara Asia seperti yang disebutkan di atas sedang berlomba membuatnya, namun Russia dan Amerika berupaya untuk menguranginya. Adalah Presiden Medvedev dari Russia dan Obama sejak bulan April 2010 mulai mengambil langkah signifikan.

Mereka sukses mengurangi jumlah senjata nuklir menjadi 556 milik Amerika berbanding 678 kepunyaan Russia. Bukan hal yang mudah karena ini diperoleh melalui diskusi yang panjang dalam aliansi “Non Proliferation Treaty (NPT)”, atau traktat anti nuklir ini sejak tahun 1968. Presiden Reagan pada tahun 1982 termasuk yang sangat serius mengurangi senjata nuklir ini.

“Traktat baru dibuat antara Pemerintah Russia dan Amerika pada bulan Desemberi 2010 Ini ibarat hadiah natal dari Obama dan Medvedev bagi warga dunia,” Kata salah seorang sumber di kanal Televisi Aljazeera. Dengan adanya perjanjian ini, setidaknya mengurangi peluang kedua negara itu memproduksi nuklir. Sebagai tambahan, kedua negara ini memiliki 95% nuklir dunia.

Ada dua negara yang nampaknya mesti sadar dengan inisiatif itu: Iran dan Korea Utara. Keduanya diduga sedang dia memproduksi senjata nuklir. Terhadap Korea Utara, ketakutan warga dunia rasanya beralasan mengingat konflik di semenanjung Korea yang saat ini semakin panas.

Nuklir? Ihhhh…

Budi Putra di Puntondo

Sabtu 11 Desember 2010. Kawasan pesisir yang dikelola oleh Yayasan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo menggeliat, ramai. Puluhan anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri dan tamu hadir dalam rangka perayaan hari ulang tahun Komunitas Anging Mammiri yang ke-4. Para blogger yang telah menyisir pesisir Takalar ini akan bertahan hingga Minggu, 12 Desember 2010.

Puntondo, adalah salah satu kawasan pesisir adem di Teluk Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Bagi saya, ini kunjungan kedua. Sebelumnya, saya telah menghabiskan waktu seminggu dalam bulan Mei 2010 dan menuliskan sisi eksotis dan ekologis kawasan yang mulai dikelola pada tahun 1997 itu, baik di blog maupun di harian Kompas (hingga tujuh edisi).

Lalu, pada kedatangan kedua ini, selain karena ketertarikan pada kawasan Puntondo, juga karena magnet kegiatan yang ditawarkan Komunitas Anging Mammiri. Hadirnya Budi Putra, beberapa kawan menyebutnya BP adalah juga editor Yahoo Indonesia yang hendak berbagi kisah dengan peserta di kegiatan yang oleh panitia disebut,”Mengenal Sulsel Bersama Onliner” menjadi alasan kedua.

Selama dua hari kunjungan itu saya menikmati rangkaian kegiatan yang disiapkan panitia. Sesi yang menarik adalah adanya obervasi dan dialog dengan warga pesisir terkait wajah kehidupan dan keseharian merek. Beberapa peserta dapat juga menikmati suasana pesisir dengan berkunjung ke hutan bakau (mangroves), belajar dan praktek tentang teknologi tepat guna seperti pengolahan kompos, pembuatan arang bricket dan pembuatan kertas daur ulang.

Format kegiatan yang sangat berbeda yang ditawarkan Komunitas Anging Mammiri ini bagi saya sangat inspiratif karena merupakan bukti nyata kepedulian blogger pada pentingnya menjaga keserasian lingkungan.Suatu upaya yang layak diapresiasi dan disebarluaskan bagi publik.

O ya, saat kami menghabiskan waktu di kawasan konservasi Puntondo dan belajar mengenai lingkungan ini, ratusan orang dari berbagai negara di Kota Cancun, Meksiko sedang membahas pentingnya menjaga bumi dari krisis pemanasan global.

Pesan BP

Budi Putra adalah blogger pengalaman. Kehadirannya di Puntondo adalah berkah bagi Komunitas Anging Mamiri utamanya yang tertarik meraup pengalamannya sebagai blogger papan atas di Indonesia. Tema yang disodorkan ke Budi Putra adalah “Memanfaatkan Social Media dan Social Networking untuk Promosi Budaya dan Pariwisata Sulawesi Selatan”.

Lelaki yang saya kira sebelumnya berambut tipis dan hemat bicara ini ternyata sangat sederhana dan ramah. Dia bahkan memboyong istrinya Elvi Susanti untuk bertandang ke Puntondo, satu bukti bahwa mereka suka perjalanan (traveling).

Saat pertama menyapa dan menyalaminya di kawasan Limbung, Gowa (saat itu dia mampir) untuk mencicipi kue putu cangkiri, kue khas Makassar yang banyak dijajakan di sepanjang jalan dari Sungguminasa, Gowa ke Takalar dia tampil dengan rambut ikal panjang. Tidak terlalu gondrong tetapi sangat berbeda dari tampilannya yang saya lihat di dunia maya.

Obrolan kami berlanjut hingga cottage. Saya, Syaifullah (Ketua Komunitas Anging Mammiri) dan Budi Putra rupanya ditempatkan pada penginapan yang sama. Kami sekamar dengan Budi Putra. Disinari lampu remang saya coba bertanya beberapa hal kepadanya. Ya, tentang internet dan kecenderungan social media saat ini. Jarum jam saya menunjukkan waktu pukul 21.00 wita saat kami duduk di depan cottage.

Budi menyebut bahwa blog itu ibarat pohon, social media seperti facebook, twitter itu ibarat dahan-daun atau outletnya. Oleh karena itu pohon mesti dijaga, dirawat dan diasupi. Saat banyak orang berdalih malas ngeblog karena telah ada twitter sebenarnya tidak relevan karenan ngeblog terkait dengan bagaimana mengatur waktu.

“Blogger yang baik mestinya dapat mengatur momentumnya untuk bisa menulis di blog dan ngetwit,” ungkapnya. “Bagaimana pun social media itu sangat penting dan kita bisa menceritakan apa yang kita tulis di blog kepada jejaring kita”, katanya. “Persoalannya kemudian, apa yang menarik untuk kita tulis dan itu membuat orang tertarik membacanya hingga tuntas?,” Lanjutnya.

Budi lalu mengambil contoh bahwa Bill Gates makan siang mungkin biasa tetapi menuliskan dengan siapa dia makan siang tentu akan berbeda dan menjadi berita. Menurut Budi, menuliskan tema kota, kegiatan komunitas, cerita budaya mestinya menjadi ketertarikan blogger untuk dapat menuliskannya dan tentu saja akan bermanfaat bagi setiap orang jika memberikan hal baru atau perspektif baru. Jangan hanya narsis saja,” Kata Budi.

“Jika ada situs budaya yang hancur, para blogger mestinya bersatu untuk mengangkatnya. Spektrum berita yang menyentuh level nasional tentu akan semakin strategis. Banyak hal memang selama ini yang menarik di level lokal namun belum jadi pemberitaan. Itu karena kita tidak konsisten dan terus menerus menyuarakannya,” Terangnya.

Budi juga memberi tips. Jika menulis tentang Benteng Somba Opu yang saat ini bermasalah di twitter atau facebook sebagai misal, maka jangan lupa tempatkan link dan hashtag tentang itu. Itu akan bernilai, worthed!. Sekali lagi, jangan lupakan link karena itu memungkinkan banyak orang yang tahu,” pesannya.

“Bayangkan jika organisasi PBB semacam UNESCO tahu tentang situs budaya yang dirusak itu dan mereka mengambil tindakan secara langsung karena itu merupakan milik dunia. Mereka mesti get noticed,” Kata lelaki yang pernah lima tahun bekerja untuk majalah Tempo sebelum memilih menjadi blogger fulltime.

Di situlah para blogger atau onliner mesti mengaktualisaskan diri dan terampil membangun jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak. Bagi Budi, jika blogger hendak menggiring opini atau dukungan dunia internasional maka kemampuan berbahasa Inggris para blogger harus ditingkatkan

Think about strategy, pikirkan strategi,” Pesannya mengunci perbincangan sebelum kami menuju restoran dalam area yang dikelola Yayasan PPLH Puntondo.

Sungguminasa, 19 Desember 2010

Thursday, September 23, 2010

Si Ku-Ti-Pu

“Halo kau dimana?”. Kata lelaki di bangku sebelah. Di sampingnya duduk seorang anak kecil, kira-kira umurnya 9 tahun. Mereka datang berdua.

Saya sedang menunggu pesanan mie goreng, istri mie kuah. Kami ada di warung Barokah, jalan Malino. Waktu pukul 18.30 waktu Sungguminasa.

“Eh ingatko nah, di Bo*** kita bertemu,” kata lelaki berbaju putih dengan jeans biru itu. Saya tenang saja. Ruangan seluas 4 x 5 meter persegi itu terasa panas. Kipas angin mati. Bunyi gorengan dan kompor minyak tanah seperti menderu.

“Iyya, di sana saja. Dia mesti kurus, tinggi, putih,” Kata lelaki itu. Si anak memerhatikan laku si lelaki. Kedua telapak tangannya memangku dagunya.

“Ada temanku yang sedang butuh. Janganko yang cerewet dan genit,” Lanjutnya.

“Pokoknya putih, kurus, tinggi nah?. Dia tidak suka yang cerewet. Jangan lalo…” Sungutnya.

“Ok paeng, ingatko nah, malam minggu kami ke sana. Siapkan mami,” Suaranya pelan.

“Iyya, iyya… teman ini mau sekali, jangko salah nah?. Sepertinya dia sudah tahu kemampuan si ku-ti-pu ini,” Tutupnya.

Pesanan kami sama, dia pesan mie goreng juga. Saya juga tahu pesannya ihwal si ku-ti-pu.

Entahlah kalau anak-anak itu…