Thursday, September 23, 2010

Si Ku-Ti-Pu

“Halo kau dimana?”. Kata lelaki di bangku sebelah. Di sampingnya duduk seorang anak kecil, kira-kira umurnya 9 tahun. Mereka datang berdua.

Saya sedang menunggu pesanan mie goreng, istri mie kuah. Kami ada di warung Barokah, jalan Malino. Waktu pukul 18.30 waktu Sungguminasa.

“Eh ingatko nah, di Bo*** kita bertemu,” kata lelaki berbaju putih dengan jeans biru itu. Saya tenang saja. Ruangan seluas 4 x 5 meter persegi itu terasa panas. Kipas angin mati. Bunyi gorengan dan kompor minyak tanah seperti menderu.

“Iyya, di sana saja. Dia mesti kurus, tinggi, putih,” Kata lelaki itu. Si anak memerhatikan laku si lelaki. Kedua telapak tangannya memangku dagunya.

“Ada temanku yang sedang butuh. Janganko yang cerewet dan genit,” Lanjutnya.

“Pokoknya putih, kurus, tinggi nah?. Dia tidak suka yang cerewet. Jangan lalo…” Sungutnya.

“Ok paeng, ingatko nah, malam minggu kami ke sana. Siapkan mami,” Suaranya pelan.

“Iyya, iyya… teman ini mau sekali, jangko salah nah?. Sepertinya dia sudah tahu kemampuan si ku-ti-pu ini,” Tutupnya.

Pesanan kami sama, dia pesan mie goreng juga. Saya juga tahu pesannya ihwal si ku-ti-pu.

Entahlah kalau anak-anak itu…

No comments:

Post a Comment