Friday, September 3, 2010

Polarisasi Di Binanga Benteng

Ilmiahwan, adalah satu peserta pelatihan fasilitator asal desa Lowak, Kabupaten Selayar yang saya kenal sejak bulan Desember 2009. Darinya, saya mendengar satu komunitas yang memiliki bukti sejarah kuno dari daratan Selayar.

Komunitas itu disebut, masyarakat "Ito Loweq". Dari Ilmiahwan, saya mendapat beragam informasi dan gambaran fondasi struktur masyarakat tradisional itu yang masuk ke wilayah administrasi Desa Lowa. Menurut Ilmiahwan, sisa peninggalan komunitas Loweq dapat ditemukan pada gua-gua di sebelah timur desa. Tulang belulang manusia yang berserak mengisi lereng-lereng bukit, semacam kuburan batu.

***

Saya belum sempat menulis tentang Komunitas Ito Loweq, hingga kemudian bertemu Said Abdul Gani. Salah seorang putra dari kawasan sekitar Loweq yang disebut mempunyai hubungan keluarga dengan tokoh-tokoh kunci pendiri desa di sekitar Loweq.

Said adalah staf pada kantor Bappeda Selayar yang sangat mengetahui sejarah, budaya dan situasi kontemporer komunitas itu, utamanya dengan adanya fakta bahwa terdapat tiga agama di di beberapa desa di selatan Selayar.

Menurut Said, cabang-cabang komunitas Lowa dapat dijumpai di sekitar Desa Binanga Sombaya, Lantibongang, Tongke Tongke, dan Desa Lowa dan itu terkait dengan perubahan-perubahan sosiologis dan intervensi pemerintah termasuk penetapan agama resmi.

Said yang saya jumpai tanggal 02 Mei 2010 di kedai kopi Tjoelang di Kota Benteng, mengatakan bahwa komunitas Ito Loweq adalah basis perkembangan sosial budaya di selatan Kota Benteng Selayar.

"Saat ini, terdapat tiga agama "resmi" di sana, Hindu, Kristen dan Muslim," Katanya. Muslim hanya berjumlah sekitar 20 persen. Selebihnya dibagi antara yang beragama Hindu dan Kristen.

"Biasanya, malam minggu, umat Hindu akan melakukan sembahyang di rumah masing-masing. Tidak ada rumah ibadah yang pasti. Ada dupa dan kelengkapan ibadah lainnya," Katanya. Umat Kristen akan ke gereja karena di Binanga Sombayya telah ada satu gereja.

"Walau ada tiga agama, namun mereka sulit dibedakan karena mereka membaur. Tidak ada warga yang mengenakan kalung salib, mereka juga ikut ramai saat lebaran idul fitri. Walau mereka tidak pergi shalat namun mereka menyiapkan kue atau makanan lainnya”.

Menurut Said, perkembangan Muslim di Binanga Sombaya juga menarik dipelajari, termasuk bagaimana mereka terpolarisasi. Ceritanya dapat dimulai dengan melihat kiprah seorang Syech yang diyakini keberadaannya oleh dua masyarakat, masyarakat Bantaeng dan Masyarakat Binanga Sombayya, Selayar.

Syech itu adalah Syech Abdul Gani atau warga Selayar menyebutnya Tuan Abdul Gani. Sepengetahuan orang Bantaeng, Syech Abdul Gani ada di Saudi dan disebut sebagai penganjur Islam di Bantaeng. Itulah mengapa ada mesjid tua di sana bernama Mesjid Syech Abdul Gani. Tetapi oleh masyarakat Binanga Benteng, percaya bahwa Syech Abdul Gani tidak dikuburkan di Saudi Arabia tetapi dikuburkan di Binanga Benteng.

"Syech Abdul Ganilah yang mengajarkan Islam di sekitar Kampung Binanga Sombaya. Namun demikian pengaruh budaya lokal, utamanya tradisi komunitas Lowa sangat kuat perkembangan ajaran Islam di sana," Kata Said. Saat itu, terdapat aliran kepercayaan yang tidak menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh. Bahkan lebih condong disebut aliran lain, aliran kepercayaan kuno ala warga "Ito Loweq".

Islam boleh datang tetapi pengaruh tradisi dan budaya lokal masih sangat kuat. Tahun tujuh puluhan, saat pemerintah merapikan agama warga ke dalam lima agama resmi, maka banyak pengikut aliran kepercayaan tersebut yang kocar kacir.

Selain dia terdapat pula nama Tuan Muhammad, anak dari Tuan Barri yang disebut sebagai pionir ajaran ini, mereka disebut sebagai tokoh yang berpengaruh dalam merebaknya aliran itu. Setelah intervensi pemerintah dalam pengawasan agama, ada beberapa pengikut yang hengkang ke pulau lainnya di Makassar termasuk ke pulau Barrang Lompo dan Barrang Caddi yang dikawal oleh Ince Rahim.

“Saya dengar selalu ada peringatan wafatnya Ince Rahim bagi pengikut ajaran ini di pulau-pulau yang menjadi target pengembaraan mereka”, Kata Said. Ince Rahim, berasal dari Padang. Tidak jelas, padang yang dimaksudkan ini Padang, Selayar atau Padang, Sumatera Barat.

“Sedangkan kuburan Tuan Abdul Gani, ada di Binanga Sombaya, tepatnya Binanga Benteng. Tuan Abdul Gani, datang ke Selayar pada 1913. Menurut Gani, Tuan Gani datang dari Bantaeng ke Selayar dan menikah di Batang Mata lalu ke Mekkah. 30 tahun mencari keselamatan dunia akhirat lalu kembali ke Binanga Benteng.

“Dalam perkembangannya, aliran kepercayaan yang berbasis Islam ini nyaris tidak melakukan syariat, shalat limat waktu, shalat tauhid. Karena mesjid tidak ada saat itu,” Kata Gani.

Dari sanalah kemudian ketika pemerintah mencoba menata ulang dan mengajak mereka untuk menjelaskan agamanya mereka pun beralih ke Hindu. Mereka menyebar ke komunitas Hindu dan Kristen. Beberapa lainnya kembali ke ajaran Islam.

Makassar 23062010

No comments:

Post a Comment