Lingkungan Tangnga Tangnga pada satu senja tanggal 30 Mei 2010. Saat menunggu sunset di atas Pulau Pasi, di seberang kota Benteng Selayar saya merasakan hal yang berbeda. Saat dimana banyak hamparan bakau dibabat demi kepentingan usaha, di Kelurahan Bontobangun ini masih dijumpai ekosistem bakau yang padat dan menghijau.
Saya berdecak kagum pada hamparan bakau jenis Rhizopora di sekitar empang Andi Patahangi. Pensiunan pegawai negeri yang rela menghabiskan waktunya di pesisir pantai dengan merawat tambak alamiahnya.
Menurut Patahangi, tambaknya ini awalnya adalah hamparan pesisir pantai yang tergenang air saat pasang naik. "Saya mulai membangunnya pada tahun 1990, setelah mendapat izin dari Dinas Perikanan Selayar," Katanya. Dia bermohon melalui skema "Prona". "Ada 10 orang dulu yang bermohon. Yang bertahan saat ini hanya tiga orang. Mereka adalah Aco Patimbangi, Lahamuddin dan saya sendiri," Katanya.
Kendala yang dihadapi adalah semakin kuatnya hempasan ombak sehingga tambak-tambak itu rusak dan tak berproduksi. "Saat banyak tambak yang hancur, saya berpikir untuk mulai menanam bakau. Saya ambil bibit di Kampung Padang," .
"Saya memilih menanam bakau karena akarnya sangat kuat mencengkeram pematang," katanya lagi. Patahangi belajar dari orang tuanya yang mengelola tambak di Padang.
Andi Patahangi kini menikmati ratusan pohon bakau berumur belasan tahun. Tingginya sudah mencapai sepuluh meter persis di sisi selatan tambaknya seluas 3/4 hektar. "Coba lihat batang dan akar bakau yang sangat kuat itu, di sana banyak sekali kepiting kepiting bakau yang bermain di sana," katanya.
Andi Patahangi juga telah menanam beberapa pohon baru di sebelah barat, di samping pohon-pohon yang sudah kokoh. Beberapa bibit dia ambil dari induknya, masih di dekat tambaknya. "Kendalanya ada karena banyak kerbau yang datang dan memakan pucuk-pucuk baru," ungkapnya. Dia menanamnya sejak musim barat lalu, jadi sudah hampir setahun.
Saat saya tanyakan usaha tambaknya ini, Patahangi bercerita bahwa pernah sekali dia menebar udang jenis Vannamae, namun rugi. Bibit dia beli dari Takalar sebanyak 50.000, seharga Rp. 2 juta pada tahun lalu.
"Saya panen hanya 300 kilo lebih udang dan nilai jualnya hanya Rp. 3 Juta saja karena harga perkilo cuma Rp. 35ribu. Saya Rugi karena waktu dan biaya operasional banyak terbuang percuma," Katanya.
"Saat ini saya hanya menunggu ikan-ikan liar yang masuk ke tambak seperti kerapu, belanak, bandeng dan udang alamiah," Kata lelaki bermata sipit ini yang masih punya darah Tionghoa.
Andi Patahangi tidak menunjukkan penyesalan dengan tambak yang dikelolanya karena dia menikmati keindahan bakau dan sunset saban petang di belakang rumahnya. Di hari tuanya, dia menunggu kesempatan baik datang, untuk mulai membuat pematang baru agar tambaknya bisa lebih mudah dikelola."Inimi yang saya kelola saja, apa adanya," katanya.
Dia sangat senang saat saya bilang, bibit bibit kepiting bakau yang banyak dijumpai di sela akar bakau dapat dibesarkan dengan membuat kurungan dan memberinya pakan buatan. Bukan hanya itu, bakau-bakau ini dapat menjadi hiburan bagi warga yang haus dahaga pariwisata pantai, atau pemancingan alami di dalam area tambaknya.
"Di usia tuanya, satu-satunya yang mengganggu adalah saat gejala asam urat menyerang dan membuat saya sulit turun ke tambak. Jika demikian saya hanya duduk di pondok samping tambak dan menikmati ketenangan di situ," Katanya.
Dia terkekeh, matanya semakin sipit saat saya menyampaikan keinginan untuk emotretnya. "Aih, saya tidak pakai baju, janganki foto bagian bawah, muka saja ya," Pintanya. "Siap!," kataku.
Benteng, 01 Mei 2010
No comments:
Post a Comment