Hujan rintik di Kampung Huluk, Selayar. Kami menuju satu rumah yang hanya berjarak seratusan meter dari villa milik Tanri Abeng. Seekor anjing kurus yang sebelumnya duduk santai di tangga bergegas lari saat Ben, teman seperjalanan saya menaiki tangga rumah bertiang pendek itu. Di depan, air tak henti mengalir dari bak penampungan. Hujan masih mengguyur wilayah timur Kota Benteng.
Di depan rumah, lelaki Anwar baru saja mandi. Dengan handuk masih membalut, dia melewati saya yang duduk di teras panggung rumahnya. Dia mempersilakan kami masuk. Di dalam, Nurhayati, istrinya yang juga kelahiran Huluk pada tahun 1971 sedang menggendong anaknya Meisya Aulia Putri, umurnya satu tahun. Si balita rupanya sedang rewel, dia terus merengek karena demam.
Setelah sang bapak naik ke rumah, anak lelakinya Irfan juga bergegas menuju bak air. Dia hendak mandi juga. Pada hari Jumat itu, sebagai warga muslim mereka mesti bersih-bersih diri untuk mengikuti ibadah shalat Jumat dalam hitungan beberapa menit lagi.
Anwar yang kurus berkumis itu, mengaku bahwa semasa mudanya, dia merantau ke Makassar. Dia sekolah di SMP Karya Makassar. Pernah dua kali mendaftar tentara, namun tidak lulus. Kemudian merantau ke Toli Toli, Sulawesi Tengah. Hanya beberapa bulan di sana namun memilih kembali ke Makassar lalu Benteng.
Di Benteng, dia sempat kerja di Kantor PLN Benteng namun memilih keluar pada tahun 1990 karena gaji yang diperolehnya tidak pas dengan kebutuhan keluarganya. Anwar gagal jadi tentara dan tidak betah menjadi pegawai perusahaan PLN.
Dia kemudian memilih kembali ke kampung halamannya. Memlih berkebun. Di kampung itu dia menggenapkan anaknya hingga tujuh orang. Anak sulungnya sudah berumur 20 tahun. Darinya, Anwar punya cucu. Bersama Nurhayati, Anwar menikah di Benteng, Selayar. Dua tahun setelah berkeluarga lalu punya rumah.
Lelaki berperawakan kecil ini menceritakan liku hidupnya dengan lancar. Tinggal di Luhuk sepertinya menjadi pilihan terakhirnya. Di sana pulalah dia bersama anaknya kini menggarap kebun dan mengisi hidupnya.
“Saya punya tujuh orang anak. Dua lelaki, dua perempuan” Katanya di ruangan tamunya yang remang. Hanya cahaya dari jendela yang memberi perbedaan. Ben, teman perjalanan saya duduk di sampingnya. Dia dan Anwar menghisap rokoknya kuat-kuat. Di depannya terletak kertas rokok cap Lonceng, kopi dan korek.
“Sejauh ini, ada sumber mata air di Huluk yaitu di yang dari Gentungang dan Bungung Tallu” Katanya tentang sumbermata air yang tak henti mengalirkan airnya ke bak mandinya. Mata air itu pulalah yang memberinya asa untuk dapat mengairi ladangnya.
Anak keempatnya yang bernama Irfan, yang tadi ikut mandi kini sudah rapi. Dia duduk di samping saya. Rupanya Irfan berhenti sekolah saat sampai kelas 1 SMP. Dia tidak naik kelas lalu memilih mogok sekolah.
Pak Anwar diam saja saat saya menanyakan kenapa tinggal kelas. Sang Ibu yang sedari tadi memilih diam, mulai ikut bicara. “Nalawangi gurunya,” Katanya. Maksudnya, Irfan tidak naik kelas karena melawan gurunya.
“Pelajaran Bahasa Inggris saya dapat lima. Matematika juga dapat lima,” Kata Irfan cengengesan. Sang ayah yang mendengar pengakuan Irfan menyela, “Padahal saya suka matematika waktu SMP katanya. Karena saya mau sekolah di STM,” Kata ayahnya. Pendidikan Nurhayati sebenarnya lumayan bagus. Dia tamat SMP Standar di Benteng. Namun tidak lama kemudian mereka menikah pada tahun 1990. “Anak perempuan saya bekerja di Makassar di pabrik roti.” Kata Nurhayati yang kerap dipanggil Tati ini, wanita yang tidak suka makan nasi. “Anaknya kerja di sekitar Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar,” Kata Sarbini.
Anwar lahir tahun 1964 atau kini berusia 46 tahun. Di usia itu dia sudah punya anak 7. Saya tidak melihat anak mereka yang lainnya di rumah berkamar dua itu. Hanya Irfan yang ikut menemani kami minum kopi. Irfan pulalah yang menemaninya bekerja di kebun.
Kini mereka menanam jambu mete. Mereka pelaku ladang berpindah, sebagaimana lazimnya warga di Huluk. “Dulu saya pinjam pakai ladang orang lain,” Katanya. Saya menanam pohon jati dan “holasa” dengan sistem bagi hasil. Anwar kini menggarap tanahnya sendiri dengan jambu mete.
Irfan di samping saya mendengar obrolan kami dengan serius. Dia terlihat lebih tua dari umurnya yang masih 14 tahun. Dia mengisap dalam-dalam rokoknya. Gayanya sangat dewasa. Sebagaimana ayahnya, Irfan muda kini sibuk berkebun. Letak kebun mereka di sebelah timur Kampung Huluk. Jalan menuju ke sana adalah jalan setapak.
Saya perhatikan, Irfan sesekali mengangkat kakinya tanpa sadar dan dengan serius menghisap rokoknya dengan perlahan. Nikmat sekali. Dia terlihat sangat dewasa. Lelaki muda yang tak selesaikan sekolah SMP-nya itu terlihat bahagia.
Benteng, 28052010
No comments:
Post a Comment