[1]
Satu siang di kamar pondokan tanpa papan nama. Di depannya terhampar rawa-rawa yang ditumbuhi kangkung liar, hijau tua. Pemandangan khas Tamalanrea. Kami tinggal persis di sisi barat pagar lapangan tenis Kampus Unhas. Saya sedang santai di kursi reot seusai main tenis pagi sebelumnya, saya pemain sekaligus kacung bola tenis pada dosen dan pegawai. Tidak apa.
Muhammad Arif Sutte, kawan sekamar baru pulang dari unit kegiatan himpunan mahasiswa Ilmu Tanah. Di tangannya, satu koran kampus Identitas menarik perhatianku. Saya tidak ingat persis, judul satu artikel di satu lembarannya, penulisnya saya juga tidak yakin, jika bukan Moch Hasymi Ibrahim pastilah Farid M Ibrahim. Yang saya ingat ada Ibrahimnya, salah satu dari mereka menulis tentang pentingnya kritik sosial yang bermula dari kehidupan kampus yang mesti terbuka, juga menyorot revitalisasi nilai budaya di Sulawesi Selatan. Menurutnya kampus, sejatinya sumbu gerakan itu.
Kedua nama tersebut kemudian bertemali ke Lily Yulianti Farid yang selalu saya baca reportasenya di Harian Kompas langganan kantor kami beberapa tahun kemudian saat saya bekerja untuk satu LSM di Makassar. Dua yang pertama bersaudara kandung dan yang terakhir istri Farid. Mereka dikenal sebagai aktivis kampus kala itu. Tepatnya penggiat karya sastra dan jurnalisme kampus. Saya bukan. Saya berkenalan dengan Lily dari Pahir Halim, senior saya di Lembaga Pengkajian Pedesaan Pantai dan Masyarakat (LP3M).
Saat itu, Lily yang sedang hamil tua datang ke kantor baru kami di Jalan Hertasning, Makassar pada tahun 1997. Dia pasti sedang mengandung Fawwaz Naufal, anak tunggalnya kini.
[2]
Saat tinggal di Tamalanrea, membaca buku bukan hal yang saya sukai. Tapi bersyukur, saya masih mampu mengingat momen atau penggalan dalam artikel yang saya sebutkan diatas. Bisa jadi karena dua orang pertama dan yang kedua itulah yang telah memompa semangat tentang pentingnya menulis. Tentang berbagi cerita pada sesama dan sekitar melalui media warga yang mereka besut, Panyingkul!. Setidaknya, pada menginternalisasi prinsip dan upaya menjaga spirit menulis berbasis warga itu. "Satu upaya menangkis dominasi media mainstream yang kerap kebablasan dan tak berpihak ke warga," kata mereka.
Saat mahasiswa saya hanya suka satu bacaan, Tabloid Bola. Terasa malas membaca koran kampus supertipis itu apalagi kitab-kitab tebal dari perpustakaan kampus. Jamaknya mahasiswa pondokan yang lebih gandrung olahraga daripada olah baca, saya memang tidak akrab dengan buku, jurnal, apalagi pemikiran atau gagasan para ahli teori yang rumit.
Saya kira, mengikuti kuliah kampus saat itu karena hanya ingin segera bergegas jadi pekerja biasa saja. Bekerja dan dapat gaji. Itulah mengapa walau selalu hadir di senat Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan antara tahun 1992 hingga 1995 saya hanya turut ramai, masak mie instan, nonton televisi dan main domino. Nyaris jauh dari peran-peran organisatoris apalagi mengakutualisasikannya dengan warga sekitar.
Hingga menyelesaikan kuliah, saya beruntung karena saya tidak perlu repot mencari pekerjaan. Saya diterima bekerja di salah satu LSM di Makassar. Tidak ada surat lamaran. Tidak ada wawancara, hanya wejangan dari seorang yang sangat disegani di kantor itu. Lelaki rendah hati di kantor kecil depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 1996 itu berujar, “silakan bergabung, kami akan memberikan kesempatan kepadamu untuk belajar lagi”.
Begitulah, saya belajar bersosialisasi dengan warga, berkunjung ke desa, ke pulau-pulau jauh, obervasi, membaca fakta, bekerja bersama warga hingga mempunyai banyak sahabat dan relasi sosial hingga pulau-pulau jauh di Selayar, Pangkep dan pulau di beranda Makassar. Berminggu-minggu di sana, bahkan berbulan-bulan, saya kembali ke Tamalanrea, karena saat itu masih mondok di sana. Main bola, menonton televisi, main catur, tidur.
Waktu terus bergulir, narasi di curriculum vitae terus bertambah. Inikah makna bekerja dan “belajar lagi” itu?
[3]
Ngeblog
Hampir sepuluh tahun bekerja di beberapa wilayah Sulawesi, seperti Makassar, Pangkep, Selayar hingga Kabupaten Luwu maka pada Pebruari 2006 saya menerima ajakan untuk bekerja di Aceh. Saya ingin mencari suasana baru dan (sekali lagi), belajar lagi. Tentang makna kata “belajar lagi” ini ada yang menarik.
Di kawasan Lhoong Raya, Banda Aceh, dialog saya dengan Agung Prasetio sangat membekas. Tiba-tiba saya merasa “digugat”. Agung bekerja pada salah satu LSM besar di Jakarta atau boleh dibilang terbesar di Indonesia. LSMnya disebut besar karena mempunyai staf ratusan dengan proyek-proyek bernilai milyaran dari beberapa sponsor. Lembaganya punya penerbitan serta berbagai unit usaha pertanian dan perkebunan.
Dia menyodok dengan komentar berikut: “Selama bekerja di Sulawesi itu, ada yang bisa dicerita gak? Pengalaman tertulis, ada buku atau project report untuk kami sandingkan dengan pengalaman kami?”. Walau diiringi senyum canda, pernyataan dan pertanyaan itu telak. Saya kaget dan merasa gamang.
Saya tidak menjawabnya dengan persis, saya hanya bilang tentu saja kami punya catatan proyek. Tapi bukan saya yang pegang. Saya hanya bermodalkan memori, tentang tempat, rentang waktu dan beberapa nama. Saya memang telah belajar tetapi itu hanya untuk saya saja.
Mungkin beberapa gagasan telah dibagi tetapi dengan tidak “memfasilitasi atau mendokumentasikan” gagasan itu, makna manfaat menjadi sangat bias dan tidak terbaca dengan baik. Maksud Agung, adalah penting untuk mendokumentasikan gagasan, ya, menulis. Bukankah menarik saat kita menulis cerita-cerita humanis dan dinamika sosial dari puluhan desa yang kita jadikan tempat belajar itu? Untuk orang-orang bisa melek pada keadaan? Untuk orang-orang sadar bahwa ada pihak lain yang mengalami hal yang sama atau sebaliknya.
Tapi memang benar, selama ini sebagai pekerja LSM atau lembaga apapun itu, pemerintah atau dunia bisnis, kita kerap meremehkan catatan. Kita tidak terbiasa menulis. Kita selalu bangga dengan cerita-cerita. Tentang nama besar, tentang pengalaman, tentang momen tertentu yang seakan-akan hanya kita yang alami. Kita luput dari kebiasaan mencatat. Gambaran bahwa kita malas membaca, gagap teknologi, bangga dengan pengalaman bekerja, lalai membaca fakta, cenderung tertutup, layak disematkan ke diri, juga kepada beberapa generasi aktivis LSM pada masa itu.
[4]
Itulah mengapa saat sampai di Aceh, selama hampir setahun bergelimang bandwidth kencang, komputer dan ruang kantor yang lapang saya masih bergeming, tidak tertarik. Saya seperti manusia dari peradaban lampau di dunia yang serba canggih. Saya tidak suka internet. Paling hanya membuka satu-dua email, selesai.
Tapi, kawan saya yang bernama Agung Prasetio inilah yang mulai membuka cakrawala pikir kala di Aceh, tentang membuka jaringan pertemanan dan berinteraksi dengan jutaan sahabat di dunia maya. Dia memberikan opsi di tengah belitan kesibukan pekerjaan. Bersama Agung, saya jadi terbiasa menikmati minum kopi Ulee Kareng dan tentu saja mulai menulis di blog dengan a la kadarnya.
Agung ini pulalah yang beberapa waktu lalu, mengirimiku buku tentang pengalaman fasilitasi pemberdayaan masyarakat pesisir di 11 kabupaten/kota di Nias dan Aceh. Ada empat tulisan dalam buku itu yang saya tulis dengan lokus Aceh, ya semacam success story warga.
Dengan menulis, sesuatu yang tak terduga, muncul belakangan tanpa kita sadari dari mana datangnya. Agung, teman saya itu menyebutkan bahwa untuk berbagi cerita dengan kawan-kawan LSM bisa dimulai dengan mengunjungi blog atau kegiatannya. Di Aceh banyak lembaga swadaya masyarakat yang telah punya website dan blog. Dari sahabat inilah, saya berinisiatif ngeblog. Saya memilih www.multiply.com sebagai medianya, seperti punya kawan itu. Postingan pertama di multiply singkat, hanya menceritakan kampung kelahiran. (Blog dengan engine multiply itu telah saya hapus).
Bagi saya yang masih gaptek IT, postingan tertanggal 29 Juni 2007 begitu membahagiakan, ya, saya merasa kawan-kawan bisa mengenal dan mengetahui keberadaan saya. Blog pertama yang menggugah hasrat untuk menuliskan hasil pemikiran dan bagaimana membahasakan keseharian dan pengalaman. Sempat mencoba beberapa engine gratis hingga akhirnya, betah di wordpress.
[5]
Adalah Muhammad Ruslailang Noertika, saudara virtual saya, yang mengajak saya untuk bergabung dengan Panyingkul. Seperti saya, dia juga bekerja jauh dari kampung halamannya. Dia, penulis blog yang aktif dan mempunyai minat yang sama pada issu-issu sosial dan sekitar.
Berawal dari berkenalan di mailing list sekolah, dialah yang mendorong untuk bergiat dan meningkatkan skill ngeblog, menjadi penulis pemula, mengajak bergabung di forum blogger asal Makassar www.angingmammiri.org dan kemudian bergabung di media citizen reporter andal www.panyingkul.com sebagai citizen reporter sekaligus aktif di mailing list mereka panyingkul@yahoogroups.com.
Saya pun beranikan diri mengirim tulisan tentang perayaan kemerdekaan RI di Banda Aceh. Aceh saat itu masih dalam transisi politik. Saya hanya melaporkan hal biasa, cerita hari itu dan beberapa foto pendukung. Itupun karena jarak lokasi perayaan hanya beberapa meter dari tempat kerja saya di Jalan Singgahmata, Banda Aceh. Tulisan pertama saya di Panyingkul pada bulan Agustus 2007.
Berkenalan dengan Panyingkul, mengarahkan saya pada dua sosok yang saya sebutkan sebelumnya yaitu Hasymi dan Farid. Tentang ini, saya juga punya cerita. Saya sudah pernah diminta untuk bergabung di www.panyingkul.com melalui mailing list alumni Unhas yang menyebutkan andil mereka di media berbasis warga ini. Kesan pertama, saya bukan penulis aktif bahkan tidak tahu sama sekali, kedua, Panyingkul pasti hanya bertahan beberapa tahun saja. Hal lainnya, saya riskan bersanding dengan mereka yang sejak kuliah telah mengerami banyak gagasan, kisah dan hal-hal baru dan disegani di lingkungan kampus.
Apalagi saat mengingat pernyataan Agung itu, we had nothing in writings, selama bekerja di LSM. Jikapun saya bergabung pasti tidak sekarang, nanti saja.
Tapi kemudian, semangat bergabung di Panyingkul memang bukan semata-mata karena kita telah mampu menulis dengan baik namun demi menyambung atau merekatkan kembali temali persahabatan. Pada kampung halaman dan pada situasi kebatinan yang melingkupinya. Tentang perhatian, cinta dan peduli pada sesama. Makassar sebagai episentrum semangatnya.
[6]
Bergabung dengan mereka berarti mencairkan kebekuan lingkungan pekerjaan yang rigid, jenuh, membosankan dan jauh dari hiruk pikuk semangat kolektifitas Makassar yang ramai, riuh dan demokratis.
Saya sungguh bahagia saat menceritakan, kampung halaman saya Galesong, di Kabupaten Takalar dari waktu ke waktu. Menceritakan kenangan kala kanak-kanak, menceritakan pengalaman selama tinggal di sana, merekam hal positif dan menakar hal yang kurang berkenan dengan masa depan. Saya dapat menceritakan berbagai aspek kehidupan kampung, dari sisi ekonomi, sosial hingga kesadaran politik warga. Menyenangkan saat melihat bundelan catatan-catatan itu dibaca Bupati Takalar (mungkin beliau tidak membaca sampai selesai), para sahabat masa kanak-kanak, hingga kedua orang tua saya (saya yakin mereka senang dengan isi buku itu).
Menuliskan dimensi sosial, budaya dan politik tentu bukan hal mudah. Tapi di sana, di Panyingkul saya mengenal banyak sahabat baru yang mau berbagi. Beragam nama dengan profesi, latar belakang pendidikan, tempat kelahiran dengan kecintaan yang membubung. Yang sedang sekolah di luar negeri, yang sedang menggali minyak di pedalaman Nusantara, yang sedang berlayar di lautan jauh, para istri yang setia melayani suaminya untuk berdiskusi dan berseloroh riang, hingga yang anak-anak sekolahan yang curhat tentang masa-masa pubertasnya.
Saya belajar dari mereka memandang setiap dimensi kehidupan dengan seimbang. Semuanya dipaket dalam nuansa dengan prinsip universalitas, kemanusiaan dan saling menghargai. Bukan karena kemampuan menulis yang saya punyai hingga bergabung, tetapi kedekatan emosional yang lahir karena interaksi yang sangat cair a la warga biasa itu. Tiada kelas di sana.
Dari sana, siapa sangka saya dapat berkenalan seorang wanita Jepang yang punya basis organisasi di Brazil dan menemaninya di Aceh, ngobrol dengan jurnalis papan atas Indonesia seperti Maria Hartiningsih, Andreas Hersono, Linda Cristanty, Pepih Nugraha dan lain sebagainya. Mereka orang-orang yang selama ini hanya jadi gambar dalam berita, ternyata dapat diajak dialog.
Dari Makassar tentu tak terhitung berapa sahabat baru saya yang menggeluti sastra, puisi, cerpenis, fotografer, dan lain sebagainya. Mereka orang-orang yang pantas jadi oase belajar, bagi saya yang udik pengetahuan dan teknologi.
[7]
Proses Menulis
Kontrak pekerjaan saat di Aceh dari Pebruari 2006 hingga Juni 2008. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa setahun pertama saya sangat terkurung pada rutinitas beku. Pada pertengahan tahun 2007, kegairahan saya muncul saat mulai berkenalan dengan beberapa blogger dari komunitas Anging Mammiri Makassar. Berpijak dari sini seakan saya masuk ke tahap fondamen kepenulisan.
Di sana saya belajar tentang ngeblog, bagaimana mencari ide tulisan, minta tolong pada yang ahli mendisain templat blog hingga dipandu mengisi blog berbasis wordpress.
Tidak perlu menunggu lama untuk menulis di www.panyingkul.com. Jika yang lain merasa minder, tidak siap, saya malah memilih meleburkan diri dalam dialog dengan para pendirinya. Saya hanya mesti siap diledek atau dikritisi untuk mampu. Saya mengejar mereka dari milis hingga jumpa di darat (offline).
Hanya Lily - sebagai backbone P! - yang pernah saya jumpa langsung, yang lainnya lewat foto saja. Lily pun sudah 10 tahun tak jumpa, dan dia tidak “mengenal” saya secara dekat. Tapi, dari persahabatan itu, saya peroleh belasan buku bacaan, referensi, artikel, alur dialog dan empati yang hidup, hingga hadiah kue dan souvenir dari belahan bumi lain.
Dari buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” hingga “The White Men’s Burden” yang pedas sebagai kritik sosial dan lain sebagainya. Mengasikkan bukan? Tapi hal di atas tentu tidak seberapa dengan cakrawala yang semakin multiwarna itu.
Persahabatan yang teruji. Bukan melulu hal fisik tetapi dahaga batiniah dalam hal belajar dan menyerap nilai-nilai universal, saling asah-asih-asuh. Di sana tiada gap, tiada batasan umur, semua menyatu dalam wujud kolektifitas itu.
Karena dasar itu, saya sangat rela untuk menyediakan waktu berdiskusi dengan para sahabat itu, bersedia menemani saat beberapa anak SMA hendak melakukan riset kecil tentang kelautan yang menjadi bidang utama saya, tentang destructive fishing,pemberdayaan masyarakat pesisir dan lain sebagainya.
Selama melakukan perjalanan dari pesisir timur hingga pantai barat Aceh, dari Lhokseumawe hingga Meulaboh, bagi saya tentu merupakan untaian realitas yang merupakan bahan tulisan yang baik. Begitu pula, pulau Simeulue dan Nias di Sumatera Utara. Jika sebelumnya hanya menjadi catatan pribadi, disimpan di memori otak, kini tidak lagi. Semua telah dishare diblog. Perjalanan melihat dunia yang lain, tentang wajah desa, komunitas, cerita sejarah hingga kearifan-kearifan lokal di Sumatera.Kawan-kawan yang getol berdiskusi di maliling Panyingkul sangat menyukai cerita perjalanan itu.
Setahun mengenal blog, sungguh mengesankan. Dapat menceritakan pengalaman berkunjung ke kampung jauh di belahan Sumatera, Aceh, Simeulue, Nias, Medan, Lhokseumawe,Takengon dan sebagainya. Dapat pula belajar membaca sejarah negeri lain. Belajar tentang kondisi sosial budaya, bahkan lingkungan alamnya.
Oh ya, karena pertemanan di dunia maya itu pula, saya merasa tidak gagap teknologi lagi. Dengan bantuan alat komunikasi sekelas Blackberry saya semakin termotivasi untuk menulis. Terima kasih tak terhingga kepada yang telah memperkenalkan teknologi canggih ini, gadget yang sangat "beracun". Menceritakan nelayan teripang di Pulau Simeulue, keturunan Bugis di Nias, Rukiah wanita tua asal Bontonompo di Banda Aceh, hingga kisah-kisah warga biasa yang punya hubungan emosional dengan Makassar atau Sulawesi dengan mudah mengalir ke meja redaksi.
Pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika menjumpai kawan-kawan sekampung yang mencari sesuap nasi di ujung pulau Sumatera. Dia mengenal cerita saya dari blog, menelpon dan akhirnya berjumpa di Banda Aceh. Juga, menceritakan mereka mengarungi pulau demi pulau hingga bertemu di daerah pelosok desa di pulau Simuelue.
Di ranah offline, saya sangat terkesan dengan beberapa pihak yang selama ini menjadi kontributor di Panyingkul. Beberapa dari mereka adalah aktivis LSM, pekerja sosial, seniman dan penggiat pendidikan politik warga. Berbagai diskusi, bedah buku, bincang politik, pelatihan jurnalisme sastrawi, hingga penulisan dan fotografi menjadi percabangan pengetahuan yang saya nikmati setelah berinteraksi dengan mereka di Panyingkul.
[8]
Dunia kreatif yang multiwarna dan penuh talenta itu ada di sana. Juga, dunia yang bebas. Mereka yang ada di sana seperti aliran kreatifitas yang terus mengalir, melewati kelok sungai, hingga ke muara kebebasan. Apakah akan benam menjadi sedimen di muara pantai atau terus berenang, melayang, lepas menuju samudera dan palung jauh. Di Panyingkul, semua bebas menentukan orientasinya.
Di empat tahun usia Panyingkul ini, saya membayangkan suatu keadaan hiruk pikuk di muara. Tempat dimana dermaga dijumpai. Tempat di mana ada banyak ukuran dan jenis perahu bersandar. Ada yang hendak berlama-lama mengisi bekal air bersih dan kebutuhan logistiknya, atau beberapa yang telah penuh mengisi perbekalan. Semua diselaraskan. Semua diputuskan.
Begitulah, hingga masa empat tahun ini, saya tetap percaya bahwa menulis (tentang apa saja) dapat dilakukan dengan leluasa. Ibarat belajar mengasah kepekaan, menyerap nilai-nilai dan menyampaikan gagasan atas fenomena atau masalah tertentu, maka tulislah sesuai dengan kemampuan kita. Jika hanya mampu menulis a, tulislah a, jika mampu menulis bata, tulislah bata. Dengan sedikit ekspresi emoticon, pandangan (viewpoint) anda akan terbaca di seberang sana, di benua paling jauh sekalipun. Panyingkul bermula dari sini dan dengan terus menerus mendorong inisiatif warga untuk memperjuangkan suaranya, kehendak dan keadaannya. Panyingkul bertahan di posisi itu.
Waktu dan kepekaan pada sekitar akan memperkaya gagasan kita sebagai blogger atau penulis pemula. Apalagi jika telah menetapkan cinta-cita setinggi langit, misalnya menjadi penulis produktif dan hendak jadi rolemodel perubahan.
Menulis mesti didasarkan pada pemihakan domain kepentingan sosial, publik atau warga. Juga dapat berupa akumulasi dari pengalaman yang faktual. Menulis mestinya merupakan manifestasi daya kritis warga dalam memandang diri dan lingkungannya.
Selama empat tahun menjadi bagian dari keluarga bahagia di Panyingkul, saya kira gagasan warga tidak saja “dilembagakan” melalui frame berpikir kritis dan menggugat, lebih dari itu, saya memperoleh ruang ekspresi yang berbeda. Tentu saja karena metode yang berkembang di sana adalah metode warga biasa, tiada kelas apalagi guru besar dan dogma.
Selamat ulang tahun P! www.panyingkul.com yang ke-4!
Makassar 30062010
No comments:
Post a Comment