Friday, September 3, 2010

Tanya Sofia


Si Sulung, Intan Marina lahir pada tanggal 26 Desember. Saat dia meniup lilin ulang tahunnya di ulang tahun ke-5nya pada tahun 2004, tsunami melumpuhkan Banda Aceh dan sekitarnya. Yang kedua, Khalid Adam terlahir 25 Maret saat saya dalam perjalanan di atas laut ke Taman Nasional Taka Bonerate tahun 2002, Selayar. Saya mendengar kabar kelahirannya pada pukul 11.00 wita saat untuk kali pertamanyajuga telpon satelit mulai operasi di Pulau Rajuni, Taka Bonerate.

Pagi ini, tanggal 22 Mei 2010, si bungsu, Aisya Sofia bertanya, “berapami umurku Pak? Lahir dimana?”, saat saya memeluk dan memberinya kecupan selamat ulang tahun. Wajahnya masih kusut, rambutnya berantakan, ilernya masih menempel di pipi kanannya. Si bungsu senang, dia menagih hadiah. Anakku yang satu ini, punya keistimewaan, beberapa bulan terakhir setiap ia bangun, dia selalu melepas senyum. Selalu menyenangkan melihatnya saat bangun.

***

Calang, tanggal 22 Mei 2006. Seorang bapak baru saja menempuh perjalanan selama empat jam dari Meulaboh, Aceh Barat. Dia lalu mencari penginapan di ibu kota kabupaten Aceh Jaya yang sebelumnya luluh lantak dihantam gempa bumi dan tsunami. Tidak gampang mencari penginapan di sana karena hampir semua rumah, penginapan, wisma telah hancur serata tanah. Jika pun ada, semua nyaris diisi para pekerja sosial atau staf perusahaan kontraktor.

Butuh beberapa menit untuk mengelilingi daerah itu. Terlihat beberapa gudang, tenda-tenda besar warga putih dengan logo United Nations biru muda putih, rumah-rumah kayu, dan para pekerja NGO yang terlihat lalu lalang seperti berpacu dengan waktu merampungkan proyeknya, di tahun kedua setelah peristiwa dahsyat tersebut.

Cuaca sangat panas saat si bapak datang. Semilir angin serasa tak berarti. Daerah itu sangat gersang. Bapak itu merasa asing. Satu kedai kopi yang lebih tepat disebut ruangan dalam dengan rangka bangunan yang “belum selesai”. Letaknya di balik bukit kecil di sebelah barat Calang. Lokasinya di utara gudang Palang Merah Canada dan tidak jauh dari kantor Oxfam Calang.

Setelah berbasa-basi dengan beberapa pengunjung dan tuan rumah, tuan rumah memberi tahu bahwa di lantai rumah atas masih tersisa satu kamar yang dapat disewa. Ukurannya 3 x 3. Dua tempat tidur kecil dengan balutan seprei dari semacam tikar. Ada meja kecil. Kamar mandi di luar. Bapak itu masih mendengar deru heli di dekat pantai yang rutin di sore hari yang mengunjungi wilayah di selatan sekitar 150 kilometer dari Banda Aceh.

Tentu saja bapak itu senang bukan kepalang, lalu mengiyakan saja harga yang ditawarkan pemilik. Memang, rumah berlantai dua itu, nyaris tanpa dinding tapi buat nyaman karena di sana sang bapak dapat mendengar cerita saat daerah itu dilanda bencana. Ruang tengah di lantai dua jebol. Hanya kamar depan yang tersisa, dinding sebelah barat sudah runtuh. Yang membuat rumah ini masih bertahan karena letaknya di balik bukit. Konstruksinya terlihat kokoh. Rumahnya terlihat bagai kombinasi rumah batu dan lantai dua yang berkonstruksi rangka saja. Dari jendela kamar itu terlihat satu rumah di atas bukit rimbun di sebelah utara.

Bapak itu tidak sadar bahwa nun jauh di sana, di Makassar, seorang wanita berumur 28 tahun sedang menunggu masa-masa dahsyat. Menunggui kelahiran anak ketiganya. Malam itu, sang Bapak melewati waktu demi waktu di Calang, satu ibukota kabupaten yang tidak terlalu luas namun eksotik karena topografi pantai dan konfigurasi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sang Bapak melewati malam dengan mengobrol panjang lebar bersama sopir mobil sewa dan beberapa warga Calang di kedai kopi.

Malam berlalu. Tidur sang bapak tak terlalu nyenyak. Angin malam menembus dinding kamar yang bolong, berhembus dari Samudera Hindia terasa buat gigil. Bermalam pertama di Calang, lokasi tsunami yang didera sangat parah itu berhasil dilaluinya. Mata dan hatinya tertuju pada suasana Calang yang menunjukkan gelisah, sisa penderitaan dan daya tahan.

Keesokan paginya, sekitar jam 10.00 wita di Rumah Bersalin Budi Mulia, di Jalan Pelita, Makassar, seorang ibu ditemani mertua sang bapak dan anak keduanya bernama Khalid Adam segera bergegas ke kamar bersalin. Menurut berita, kontraksi sang ibu tidak sampai 30 menit hingga dia melahirkan.

“Saking cepatnya kelahiran itu, saya sempat khawatir si bayi akan lahir di taksi” Kata sang Istri. Sang bapak mendengar kabar ini saat dia sedang leyeh di atas tempat tidur. Satu sms dari iparnya memberinya nafas lega dan mengharukan. Anak ketiganya, Aisya Sofia lahir di Makassar saat dia sedang merenung di Calang, tanah yang mencoba tegar melanjutkan hidup setelah bencana itu.

Selamat ulang tahun ke-4, anakku Aisya Sofia! Nama itu diinspirasi oleh Aisyah Daeng Baji, nenek kami yang telah berpulang. Berharap kesabaran dan daya tahan sang nenek dapat dicangkokkan ke dirinya. Nama Sofia merujuk ke Sofia E. Bettencourt, wanita cantik berdarah Portugal yang bekerja pada satu donor pembangunan internasional yang merintis satu program konservasi terumbu karang terbesar di Indonesia.

Semoga dikau tumbuh cantik, menyenangkan bagi sesama dan punya daya tahan yang dapat diandalkan, anakku!

Makassar 22052010

No comments:

Post a Comment